Jum'at, 24/04/2026 22:15 WIB
Kuwait City, Jurnas.com - Militer Kuwait melaporkan bahwa dua pesawat nirawak (drone) yang datang dari arah Irak menyerang pos perbatasan darat di wilayah utara pada Jumat (24/4).
Serangan ini menyebabkan kerusakan material namun tidak memakan korban jiwa, meski terjadi di tengah periode gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Berdasarkan pernyataan resmi militer Kuwait melalui platform X, serangan tersebut dikategorikan sebagai tindakan agresi kriminal.
"Pagi ini, dua pos perbatasan darat utara Kuwait menjadi sasaran agresi kriminal yang melibatkan dua drone bermuatan bahan peledak yang dipandu oleh kabel serat optik, berasal dari Republik Irak, mengakibatkan kerusakan material tetapi tidak ada korban manusia," demikian keterangan militer dikutip dari Arab News.
Bahas Gencatan Senjata, Menlu Iran Bertolak ke Pakistan
Paus Leo XIV Desak AS dan Iran Berunding Akhiri Perang
UEA Pesimistis Mampu Perbaiki Hubungan dengan Iran
Sejak perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari, kelompok bersenjata pro-Iran di kawasan tersebut kerap mengklaim serangan harian terhadap basis-basis militer.
Meskipun sempat menyatakan penangguhan aksi setelah pengumuman gencatan senjata, insiden terbaru ini menunjukkan masih adanya aktivitas militer yang tidak terkendali di lapangan.
Negara-negara Teluk telah berulang kali memanggil perwakilan Irak untuk memprotes serangan yang terus dilakukan oleh kelompok-kelompok ini bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Irak terjepit dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, di mana berbagai serangan berulang kali menargetkan kepentingan AS di Baghdad maupun kelompok pro-Iran di negara tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kelompok tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone ke Kuwait tersebut. Namun, spekulasi di media sosial mengarah pada keterlibatan milisi yang didukung Iran.
Pemerintah Irak kini menghadapi tekanan tajam karena dianggap gagal mencegah operasi militer ilegal yang diluncurkan dari dalam wilayah kedaulatannya.
Serangan ini terjadi saat gencatan senjata memasuki minggu ketiga, yang secara umum sebenarnya masih bertahan di sebagian besar wilayah konflik.
Di sisi lain, pada hari yang sama, pemerintah Kuwait tetap melanjutkan rencana untuk mulai membuka kembali wilayah udaranya bagi maskapai komersial sebagai upaya normalisasi aktivitas transportasi udara.