Jum'at, 24/04/2026 10:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Hari Angkutan Nasional yang diperingati setiap 24 April menjadi momentum refleksi atas peran penting sektor transportasi dalam membangun konektivitas Indonesia.
Peringatan Hari Angkutan Nasional juga menegaskan kembali posisi transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi nasional.
Dikutip dari Damri, sejarahnya peringatan ini dapat ditelusuri sejak masa pendudukan Jepang pada 1943, ketika dua layanan angkutan mulai beroperasi di Indonesia, yakni angkutan barang dan penumpang.
Jawa Unyu Zigyosha hadir sebagai angkutan barang (bermula dari Cikar, angkutan gerobak yang ditenagai oleh 2 ekor sapi), sementara Zidosha Sokyoku melayani penumpang dengan kendaraan bermotor.
Hari Angkutan Nasional, Tarif Transjakarta Hari Ini Hanya Rp1
24 April 2026, Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Hari Solidaritas Asia-Afrika 24 April, Ini Sejarah hingga Tujuannya
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pengelolaan kedua angkutan itu diambil alih oleh Kementerian Perhubungan dan diubah namanya menjadi Djawatan Pengangkoetan serta Djawatan Angkutan Darat.
Dalam perkembangannya, kedua layanan tersebut dilebur menjadi satu lembaga bernama Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia atau yang kini dikenal sebagai DAMRI.
Dari proses tersebut lahirlah Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI), yang kini dikenal sebagai DAMRI. Lembaga ini kemudian berkembang hingga berstatus sebagai badan usaha milik negara pada 1961 dan terus bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman.
Lebih dari sekadar sejarah, Hari Angkutan Nasional mencerminkan peran strategis transportasi dalam menyatukan wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Moda darat, laut, udara, dan rel menjadi penghubung utama yang memastikan pergerakan manusia dan barang tetap berjalan efektif.
Konektivitas ini berkontribusi langsung terhadap percepatan pembangunan, pemerataan ekonomi, serta integrasi antarwilayah. Transportasi publik tidak hanya dipandang sebagai layanan teknis, tetapi juga instrumen sosial dan ekonomi yang menopang aktivitas masyarakat.
Peringatan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap para pekerja sektor transportasi, mulai dari sopir, masinis, pilot, pelaut, hingga petugas terminal dan pelabuhan. Mereka berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga kelancaran mobilitas nasional setiap hari.
Namun, sektor transportasi masih menghadapi sejumlah tantangan seperti kemacetan, emisi karbon, dan aspek keselamatan. Kondisi ini mendorong perlunya transformasi menuju sistem transportasi yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.
Perubahan tersebut mulai terlihat melalui pengembangan transportasi publik yang lebih inklusif, integrasi antarmoda, hingga digitalisasi layanan. Inovasi ini bertujuan meningkatkan kenyamanan sekaligus mendorong masyarakat kembali menggunakan transportasi umum.
Selain itu, peningkatan kualitas layanan juga memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga fasilitas transportasi. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem mobilitas yang berkelanjutan.
Dengan demikian, Hari Angkutan Nasional tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga refleksi arah masa depan transportasi Indonesia. Momentum ini menegaskan komitmen untuk menghadirkan sistem transportasi yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (*)