Jum'at, 12/06/2026 15:27 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi VI DPR RI Budi S Kanang menyoroti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang dinilai berpotensi menggerus daya beli masyarakat kelas menengah.
Menurut dia, kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena tidak memperoleh berbagai bentuk perlindungan yang selama ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah, seperti subsidi maupun operasi pasar.
“Kelas menengah ini yang pasti berdampak. Kalau kelas menengah ke bawah masih ada subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Kelas menengah tidak mungkin mendapatkan itu,” kata Budi dalam keterangannya, Jumat (12/6).
Jaga Daya Beli, Legislator Minta APBN 2027 Berpihak pada Kelas Menengah
Legislator PDIP Kritisi Kenaikan BBM: Kapan Pemerintah Memahami Rakyat?
Piala Dunia 2026 Dinilai Mampu Ciptakan Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal
Ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat tidak hanya berasal dari kenaikan harga BBM non-subsidi, tetapi juga akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada meningkatnya harga berbagai kebutuhan konsumsi.
“Dampak daripada dolar yang membumbung tinggi, IHSG yang merosot, ini juga menjadi beban rakyat. Kenyataannya akibat pelemahan rupiah, beberapa kebutuhan konsumsi harian masyarakat juga meningkat,” ujarnya.
Budi menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Pasalnya, jika biaya hidup terus meningkat sementara perlindungan sosial tidak menjangkau kelompok menengah, maka sebagian masyarakat berpotensi mengalami penurunan status ekonomi.
“Kelas menengah ini akan banyak yang turun menjadi tidak mampu. Dan kalau sudah turun, naik lagi itu susah. Ini yang harus hati-hati,” tegasnya.
Karena itu, Budi meminta pemerintah melihat persoalan kenaikan BBM dan pelemahan ekonomi secara lebih komprehensif. Menurut dia, kebijakan yang diambil tidak hanya perlu mempertimbangkan aspek stabilitas makroekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap kemampuan belanja rumah tangga.
“Pemerintah perlu melihat persoalan ini secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi stabilitas makro, tetapi juga bagaimana daya beli masyarakat dapat tetap terjaga,” pungkasnya.