Rabu, 22/04/2026 18:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Earth Day atau Hari Bumi 2026 diwarnai peringatan serius dari para ilmuwan terkait percepatan krisis iklim global. Sejumlah “titik balik” atau climate tipping points disebut sudah mulai terjadi, menandai perubahan besar yang sulit bahkan mustahil untuk dibalik.
Konsep titik balik iklim diibaratkan seperti gelas air yang dimiringkan perlahan hingga akhirnya tumpah dalam satu momen. Dalam sistem bumi, kondisi ini terjadi ketika perubahan kecil berakumulasi hingga memicu perubahan drastis yang tidak bisa dikendalikan kembali.
Dikutip dari Earth, para ilmuwan mengidentifikasi sekitar sembilan titik balik utama dalam sistem iklim bumi. Namun, pada Hari Bumi tahun ini, beberapa di antaranya disebut tidak lagi sekadar ancaman, melainkan sudah mulai berlangsung.
Salah satu contoh paling nyata terjadi pada terumbu karang air hangat yang kini mengalami penurunan jangka panjang. Meski hanya mencakup kurang dari 1 persen dasar laut, ekosistem ini menopang sekitar 25 persen kehidupan laut.
Hari Bumi Diperingati 22 April, Begini Sejarah hingga Tujuannya
22 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Perang Iran Picu Lonjakan Emisi, Lepaskan 5,6 Juta Ton CO2 dalam 2 Pekan
Dalam periode 2023 hingga 2025, dunia mengalami peristiwa pemutihan karang terbesar yang merusak 84 persen terumbu di 83 negara. Laporan yang melibatkan lebih dari 160 ilmuwan dari University of Exeter menyebut kerusakan ini tidak dapat dipulihkan karena suhu laut yang terus meningkat.
Dampaknya tidak hanya pada ekosistem, tetapi juga manusia. Sekitar satu miliar orang bergantung pada terumbu karang untuk pangan, pekerjaan, dan perlindungan wilayah pesisir.
Ancaman lain datang dari sistem arus laut Atlantik yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Sistem ini berfungsi mengalirkan air hangat ke Eropa dan menjaga keseimbangan iklim global.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan AMOC berada pada titik terlemahnya dalam 1.600 tahun terakhir. Studi dalam jurnal Science Advances memperkirakan perlambatan arus ini bisa mencapai 51 persen pada 2100, jauh di atas proyeksi sebelumnya.
Jika sistem ini melemah atau runtuh, dampaknya akan luas, mulai dari musim dingin ekstrem di Eropa hingga gangguan pola hujan di Afrika dan Asia. Kondisi ini berpotensi mengancam pasokan pangan bagi ratusan juta orang.
Selain itu, pencairan lapisan beku permanen atau permafrost di wilayah Arktik juga menjadi perhatian serius. Lapisan ini menyimpan karbon dua kali lebih besar dibandingkan total yang ada di atmosfer saat ini.
Ketika mencair, permafrost melepaskan karbon dioksida dan metana ke udara. Gas metana bahkan memiliki kemampuan memerangkap panas sekitar 28 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Di sisi lain, hutan hujan Amazon rainforest juga berada di ambang titik kritis. Selama puluhan tahun, deforestasi dan kenaikan suhu telah melemahkan kemampuan hutan ini dalam menyerap karbon.
Penelitian dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa jika pemanasan global melampaui 2,3 derajat Celsius, kerusakan Amazon akan semakin cepat dan sulit dihentikan. Bahkan, hutan ini berisiko berubah menjadi savana kering pada sekitar 2050.
Yang lebih mengkhawatirkan, para ilmuwan menilai semua sistem ini saling terhubung. Pencairan es di Greenland dapat melemahkan AMOC, yang kemudian memengaruhi curah hujan di Amazon dan mempercepat pelepasan karbon.
Rantai reaksi ini berpotensi memicu efek domino yang mempercepat pemanasan global. Studi dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menunjukkan skenario tersebut terjadi dalam sepertiga simulasi, bahkan saat pemanasan dijaga di bawah 2 derajat Celsius.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa hasil akhir belum sepenuhnya ditentukan. Setiap penurunan kenaikan suhu, sekecil apa pun, dapat mengurangi risiko melewati titik balik yang berbahaya.
Hari Bumi 2026 menjadi pengingat bahwa ancaman ini bukan lagi teori, melainkan realitas yang terukur dan terus berkembang. Pemahaman atas risiko tersebut dinilai menjadi langkah awal untuk mendorong aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim global. (*)