Sabtu, 06/06/2026 23:01 WIB
Teheran, Jurnas.com - Pemerintah Iran mengecam keras laporan terbaru yang dirilis oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai program nuklir Teheran, dan menyebut laporan tersebut sebagai alat tekanan politik yang tidak objektif.
Protes keras ini mencuat setelah lembaga pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menerbitkan laporan rahasia yang mengekspresikan kekhawatiran mendalam atas hilangnya akses inspektur internasional ke situs-situs nuklir strategis di Iran.
Dikutip dari laporan AFP pada Sabtu (6/6), situasi di lapangan memang telah berubah drastis sejak militer Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran pada 28 Februari lalu, yang menghantam berbagai fasilitas vital Teheran tepat di saat proses negosiasi diplomatik mengenai pembatasan program nuklir antara Washington dan Teheran sebenarnya sedang berlangsung.
Teheran menilai IAEA bersikap tidak adil karena mengabaikan fakta bahwa kerusakan infrastruktur dan hilangnya akses fisik tersebut merupakan dampak langsung dari agresi militer, yang dilancarkan oleh musuh-musuh regionalnya.
Bahrain dan Kuwait Intersepsi Rudal Serangan Militer Iran
IAEA Sebut Serangan Iran ke Nuklir UEA Ancam Keselamatan
Tok! Parlemen AS Sepakat Hentikan Aksi Militer terhadap Iran
“Jika ingin menjadi bagian dari solusi diplomatik, maka IAEA harus menahan diri dari mengubah laporan teknis menjadi alat tekanan politik,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi melalui akun media sosial X miliknya.
Gharibabadi menegaskan bahwa rangkaian pengeboman yang dilakukan oleh pihak sekutu Barat bukan hanya bentuk pelanggaran nyata terhadap kedaulatan wilayah Iran, melainkan juga sebuah pukulan telak yang merusak sistem keselamatan nuklir secara keseluruhan.
Menurutnya, pihak Barat tidak sepatutnya menghancurkan akses keamanan yang diperlukan untuk inspeksi melalui serangan bom, kemudian menggunakan konsekuensi logis dari kehancuran serangan itu sebagai bahan tuntutan baru untuk menyudutkan posisi Iran.
Konflik bersenjata ini sebenarnya merupakan pengulangan dari insiden serupa pada Juni 2025 silam, ketika militer AS di bawah instruksi Presiden Donald Trump sempat membom tiga situs nuklir utama Iran dengan klaim berhasil memusnahkan program pengembangan senjata negara tersebut.
Meskipun negara-negara Barat yang dipimpin oleh AS dan Israel terus menuduh Teheran berambisi memproduksi senjata pemusnah massal, Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa program mereka murni untuk tujuan damai.
Akibat eskalasi militer yang berulang, nasib cadangan uranium yang diperkaya milik Iran seberat 440 kilogram, kini statusnya menjadi tidak menentu karena pemerintah Iran terus menutup rapat akses bagi pihak luar demi alasan keamanan nasional.
Keyword : Nuklir Iran Laporan IAEA Perang AS vs Iran