Hari Bumi Diperingati 22 April, Begini Sejarah hingga Tujuannya

Rabu, 22/04/2026 10:45 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Earth Day atau Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April merupakan sebuah momentum global yang menegaskan kembali pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan meningkatkan apresiasi terhadap planet Bumi.

Hari Bumi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan simbol lahirnya gerakan lingkungan modern yang berakar dari aksi masyarakat. Seiring waktu, peringatan ini berkembang menjadi momentum global untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga keberlanjutan bumi.

Sejarah Hari Bumi bermula pada 1970 saat Gaylord Nelson menggagas gerakan lingkungan di Amerika Serikat. Inisiatif ini muncul setelah bencana Santa Barbara oil spill yang menggugah kesadaran publik terhadap dampak kerusakan lingkungan.

Dengan memanfaatkan gelombang aktivisme mahasiswa, jutaan orang turun ke jalan dalam aksi serentak yang menuntut reformasi kebijakan lingkungan. Lebih dari 20 juta warga terlibat, menjadikan momen tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah gerakan lingkungan global.

Namun demikian, gagasan peringatan bumi juga sempat diusulkan oleh John McConnell pada 1969 dengan tanggal berbeda. Usulan tersebut kemudian dikenal sebagai Equinox Earth Day yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dari dua inisiatif tersebut, Hari Bumi berkembang menjadi gerakan lintas negara yang kini diperingati di lebih dari 175 negara. Hal ini menegaskan bahwa kesadaran lingkungan tumbuh dari kombinasi aksi masyarakat dan dukungan institusional.

Mengutip laman Earthday.org, tahun 2026, Hari Bumi kembali mengangkat tema “Our Power, Our Planet” yang menekankan peran masyarakat dalam menjaga perlindungan lingkungan. Tema ini mencerminkan bahwa isu lingkungan berkaitan langsung dengan biaya hidup, kesehatan publik, hingga stabilitas ekonomi global.

Dalam konteks tersebut, kondisi lingkungan memengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti ketersediaan air, sistem pangan, akses energi, hingga risiko bencana. Oleh karena itu, keterlibatan komunitas menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi.

Sejak awal, Hari Bumi telah membuktikan bahwa aksi kolektif mampu mendorong lahirnya kebijakan dan institusi lingkungan. Dampaknya terlihat pada penurunan polusi, peningkatan akses air bersih, serta manfaat jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.

Namun, perlindungan lingkungan saat ini menghadapi tekanan baru akibat krisis ekonomi, konflik, dan perubahan politik global. Di banyak negara, kebijakan terkait energi, air, dan tata guna lahan tengah mengalami penyesuaian yang berdampak langsung pada masyarakat.

Perubahan tersebut turut memengaruhi harga energi, produktivitas pertanian, hingga biaya pemulihan bencana. Dalam situasi ini, partisipasi publik menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan kebijakan dan akuntabilitas lingkungan.

Lebih lanjut, tema “Our Power, Our Planet” menegaskan bahwa kekuatan perubahan tidak hanya berada pada pemerintah. Aksi kolektif masyarakat terbukti mampu memengaruhi standar lingkungan dan implementasi kebijakan di tingkat lokal.

Inisiatif berbasis komunitas seperti energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan konservasi ekosistem menjadi contoh nyata kontribusi masyarakat. Upaya ini membantu mengurangi risiko krisis sumber daya sekaligus menjaga stabilitas layanan dasar.

Di sisi lain, sistem lingkungan bersifat saling terhubung lintas wilayah. Polusi udara, krisis air, dan rantai pasok pangan menunjukkan bahwa dampak lingkungan tidak mengenal batas negara.

Karena itu, perlindungan lingkungan juga menjadi strategi pencegahan terhadap krisis yang lebih besar, termasuk masalah kesehatan, gangguan ekonomi, dan migrasi. Tindakan di satu wilayah dapat memberikan dampak positif secara global.

Melalui momentum Hari Bumi, masyarakat dunia diajak untuk terlibat dalam aksi nyata selama Earth Week. Kegiatan seperti edukasi, gerakan komunitas, hingga aksi damai menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan kebijakan.

Dengan demikian, Hari Bumi menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Lebih dari sekadar peringatan, momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan bumi bergantung pada aksi kolektif yang berkelanjutan. (*)

TERKINI
Belum Bisa ke Tanah Suci, Ini Amalan yang Pahalanya Setara Haji Teheran: Iran Siap Negosiasi Jika AS Cabut Blokade terhadap Iran Bersihkan Puing Rumah, Warga Palestina Tewas Akibat Serangan Drone Lalu Soroti Kecurangan UTBK di Undip: Alarm Serius Integritas Pendidikan