Hari Kartini, Mercu Buana Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan

Rabu, 22/04/2026 11:02 WIB

Jakarta, Jurnas.com- Dua Guru Besar perempuan Universitas Mercu Buana (UMB) resmi dikukuhkan pada Selasa (21/4), bertepatan dengan peringatan Raden Ajeng Kartini. Momentum ini tidak hanya menandai capaian akademik tertinggi, tetapi juga menghadirkan kembali semangat emansipasi Kartini dalam wajah pendidikan tinggi masa kini.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Tower, Kampus Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta Barat, dan dihadiri antara lain oleh Tri Munanto selaku Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III, Ketua Yayasan Menara Bhakti, dan tamu undangan lainnya.

Pengukuhan tersebut dinilai menjadi simbol konkret bahwa perjuangan Kartini telah melampaui isu akses pendidikan, menuju peran strategis perempuan sebagai pemimpin pemikiran dan penentu arah perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, kedua Guru Besar yaitu Prof. Dr. Dra. Nurhayani Saragih, M.Si., (Bidang Media dan Komunikasi)  dan Prof. Dr. Augustina Kurniasih, ME., (Manajemen Keuangan), dinilai memiliki peran sentral dalam membentuk arah masyarakat kontemporer.

Prof.Dr. Andi Adriansyah, M. Eng., Rektor Universitas Mercu Buana, dalam sambutannya menegaskan bahwa jabatan Guru Besar bukan sekadar capaian akademik tertinggi, melainkan amanah intelektual dan moral. “Guru Besar adalah penjaga api keilmuan sekaligus penjaga arah peradaban. Mereka tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menjelaskan, kehadiran dua perempuan sebagai Guru Besar di bidang-bidang tersebut menunjukkan pergeseran peran perempuan dari sekadar partisipan menjadi pemimpin pemikiran (thought leader). Hal ini sejalan dengan gagasan Kartini yang menempatkan perempuan sebagai agen perubahan, pendidik, sekaligus penjaga nilai dalam masyarakat.

“Peran Guru Besar dinilai tidak hanya sebagai penghasil pengetahuan (knowledge producer), tetapi juga sebagai penyebar nilai (value distributor). Di tengah percepatan perubahan dan disrupsi teknologi, sosok Guru Besar diharapkan mampu menjembatani antara pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral,” tegas Profesor peneliti Robot Humanoid tersebut.

Pengukuhan yang bertepatan dengan Hari Kartini dinilai bukan sekadar kebetulan, melainkan refleksi konkret dari gagasan emansipatif yang diperjuangkan Kartini. Semangat kesetaraan, akses pendidikan, dan kebebasan berpikir yang ia wariskan dinilai terus hidup dan menemukan relevansinya dalam dunia akademik modern.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Augustina Kurniasih, ME., menyoroti bahwa manajemen keuangan tidak lagi dapat dipahami secara sempit sebagai upaya efisiensi dan maksimalisasi keuntungan. Sebaliknya, ia harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, mencakup keadilan distribusi, tanggung jawab sosial, serta keberlanjutan jangka panjang.

“Keuangan bukan sekadar instrumen teknis, tetapi juga mekanisme yang menentukan arah kesejahteraan dan keadilan dalam masyarakat,” ujarnya.

Dalam bidang media dan komunikasi, salah satu sorotan utama adalah pergeseran mendasar dari media massa ke platform digital yang mengubah ekologi komunikasi. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Nurhayani Saragih, M.Si., menegaskan bahwa transformasi ini mengubah posisi publik dari sekadar penerima informasi menjadi produsen makna.

“Perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang masif, termasuk disinformasi dan fenomena hiperrealitas, menuntut peran akademisi dalam menjaga kualitas wacana publik. Literasi media dan etika komunikasi menjadi krusial agar komunikasi tidak hanya efektif, tetapi juga berkeadaban,” kata Nurhayani.

TERKINI
Legislator PKB Harapkan Apple Perluas Investasi di Indonesia Napi yang Singgah di Kedai Kopi Dipindahkan ke Nusakambangan KPK Duga Polisi hingga Jaksa Terima `THR` dari Bupati Rejang Lebong Legislator PKB: Tata Kelola Pupuk Bersubsidi Harus Dirombak Total