Sabtu, 06/06/2026 19:23 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat menyampaikan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026 harus menjadi momentum untuk beralih dari kesadaran menuju tindakan nyata.
Hal tersebut disampaikan Menteri LH Jumhur di hadapan 10.000 peserta acara puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Sabtu (6/6).
"Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam," kata Menteri LH dalam siaran pers.
Menurut Menteri Jumhur, kondisi lingkungan saat ini menuntut adanya pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui komitmen dan kepedulian, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang nyata dan berkelanjutan.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Setiap 5 Juni, Ini Sejarahnya
Menteri LH Sebut Pilah Sampah Harus 100 Persen Tuntas di Tingkat Kelurahan
Menteri LH Minta Komitmen Daerah Pacu PSEL untuk Kendalikan Sampah
Oleh karena itu, tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim" pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim, mulai dari lingkungan terdekat hingga skala yang lebih luas.
Pesan tersebut sejalan dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, yang menegaskan bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.
"Urusan lingkungan hidup adalah urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi," ujar Menteri Pambudy.
"Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik. Pak Menteri Lingkungan Hidup sudah mengatakan bahwa menyelesaikan persoalan lingkungan harus dengan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat," ujar Menteri Pambudy lagi.
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup menekankan bahwa aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru perubahan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu aksi yang paling sederhana namun memiliki dampak besar adalah memilah sampah dari sumber. Langkah ini menjadi penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dalam kondisi tercampur. Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Dengan demikian, semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah dari sumbernya, semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Pada saat yang sama, beban TPA dapat dikurangi dan kualitas lingkungan hidup masyarakat dapat ditingkatkan.
Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), KLH/BPLH mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau investasi besar, tetapi dapat dimulai dari perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu. Semangat "No Generation Left Behind" menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.