Hizbullah Beri Lima Syarat Gencatan Senjata dengan Israel

Minggu, 19/04/2026 17:19 WIB

Beirut, Jurnas.com - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa pihaknya bersedia bekerja sama dengan pemerintah Lebanon untuk menjaga stabilitas, namun menetapkan syarat-syarat berat bagi kelanjutan perdamaian dengan Israel.

Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (18/4) saat gencatan senjata 10 hari antara kedua pihak masih bertahan, sebagaimana dikutip dari NY Times pada Minggu (19/4).

Meski menyambut baik jeda pertempuran tersebut, Qassem menegaskan bahwa pejuang Hizbullah saat ini tetap dalam posisi siaga tempur.

Dia menetapkan lima syarat utama untuk memperpanjang perdamaian, termasuk penghentian permanen serangan Israel terhadap target-target di Lebanon dan penarikan penuh seluruh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Tuntutan tersebut diprediksi sulit terpenuhi. Israel meluncurkan invasi darat besar-besaran ke Lebanon selatan, yang merupakan benteng pertahanan Hizbollah.

Ini merupakan respons atas serangan kelompok tersebut pada Maret lalu. Hingga kini, militer Israel memberikan sinyalemen akan tetap menduduki sebagian besar wilayah tersebut bahkan setelah konflik berakhir.

Di sisi lain, tekanan internasional untuk melucuti senjata Hizbullah semakin menguat. Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (16/4) menyatakan bahwa bagian dari kesepakatan gencatan senjata mencakup penegasan kembali posisi bahwa Hizbullah tidak boleh memegang senjata.

Namun, upaya pelucutan senjata ini selalu gagal karena Hizbullah diyakini memiliki kekuatan militer yang melampaui tentara nasional Lebanon sendiri.

"Gencatan senjata tidak bisa dilakukan secara sepihak; ini harus dipatuhi oleh kedua belah pihak," ujar Qassem.

"Kami tidak akan menerima pengulangan 15 bulan kesabaran menghadapi agresi Israel sembari menunggu diplomasi yang tidak membuahkan hasil apapun," dia menambahkan.

Qassem menambahkan bahwa perdamaian yang berkelanjutan juga bergantung pada kepulangan ratusan ribu warga Lebanon yang mengungsi akibat konflik.

Namun, kehadiran militer Israel yang terus berlanjut di wilayah selatan diprediksi akan memperpanjang masa pengungsian mereka.

Berdasarkan data otoritas Lebanon, sekitar 2.300 orang tewas di pihak Lebanon dalam perang terbaru ini. Sementara itu, otoritas Israel melaporkan sedikitnya 13 tentara dan dua warga sipil mereka tewas akibat konflik tersebut.

TERKINI
Meski IHSG Menguat, Lima Saham Ini Terkoreksi Lima Saham Topang Penguatan Bursa Pekan ini Pekan Ini, IHSG Menguat 2,35 Persen Rekomendasi Warna Rumah yang Cocok untuk Daerah Panas