Uni Eropa Bakal Pulihkan Hubungan Diplomatik dengan Suriah

Jum'at, 17/04/2026 18:02 WIB

Brussels, Jurnas.com - Uni Eropa (UE) berencana memperbaiki hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Suriah. Langkah ini menandai perubahan kebijakan besar setelah bertahun-tahun hubungan kedua pihak membeku akibat konflik.

Berdasarkan dokumen internal yang dikutip dari Reuters pada Jumat (17/4), badan diplomatik Uni Eropa telah mengedarkan proposal kepada negara-negara anggota untuk memulihkan sepenuhnya perjanjian kerja sama tahun 1978.

Selain itu, Uni Eropa akan memulai "Dialog Politik Tingkat Tinggi", istilah formal untuk pembicaraan terstruktur, dengan otoritas transisi Suriah pada 11 Mei mendatang.

Sebagai bagian dari penyesuaian kebijakan, Uni Eropa menyatakan akan membingkai ulang dan mengadaptasi rezim serta sanksinya. Langkah ini bertujuan untuk mempertahankan pengaruh diplomatik sembari tetap terlibat dengan kepemimpinan Suriah dan menargetkan pihak-pihak yang dianggap menghambat masa transisi.

Suriah yang sebagian besar sanksi Baratnya telah dicabut akhir tahun lalu, tengah mengupayakan integrasi luas ke komunitas internasional di bawah Presiden interim Ahmed al-Sharaa.

Al-Sharaa memimpin aliansi faksi pemberontak yang menggulingkan Bashar al-Assad pada akhir 2024, mengakhiri perang saudara yang berlangsung selama 14 tahun.

Salah satu poin krusial dalam dokumen tersebut adalah rencana Uni Eropa untuk memfasilitasi pemulangan pengungsi secara aman, sukarela, dan bermartabat.

Saat ini, Eropa menampung lebih dari satu juta pengungsi Suriah, dengan hampir separuhnya berada di Jerman. Isu pemulangan pengungsi menjadi prioritas utama dalam diskusi antara ibu kota Eropa dan Damaskus sejak jatuhnya rezim Assad.

Di sektor ekonomi, Uni Eropa berambisi mengintegrasikan Suriah ke dalam proyek konektivitas regional, termasuk Koridor Ekonomi India–Timur Tengah–Eropa. Suriah diposisikan sebagai hub strategis untuk transportasi, energi, dan jaringan digital.

Posisi Suriah sebagai titik transit kritis semakin menguat di tengah krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz selama perang Iran.

Pada Kamis kemarin, kapal tanker pertama yang membawa minyak Irak melalui jalur darat telah berlayar dari pelabuhan Baniyas, Suriah. Selain itu, Turki, Suriah, dan Yordania telah sepakat untuk meningkatkan jaringan kereta api guna menghubungkan Eropa Selatan dengan kawasan Teluk.

TERKINI
Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK Myanmar Beri Amnesti untuk 4.335 Tahanan, Termasuk Suu Kyi Gencatan Senjata Masih Berlaku, Israel Terus Bombardir Gaza