Misteri Lubang Hitam Stephen Hawking Terjawab, Jika Alam Semesta 7 Dimensi

Jum'at, 17/04/2026 10:58 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru menawarkan solusi atas paradoks terkenal yang diajukan oleh fisikawan legendaris Stephen Hawking terkait lubang hitam. Penelitian ini menyebutkan bahwa paradoks tersebut bisa dijelaskan—dengan satu syarat: alam semesta memiliki tujuh dimensi.

Selama ini, teori radiasi Hawking menyatakan bahwa lubang hitam dapat memancarkan energi dan perlahan menguap hingga menghilang. Namun, teori ini memunculkan masalah besar dalam fisika, yakni paradoks hilangnya informasi (information loss paradox), karena informasi yang masuk ke dalam lubang hitam seolah lenyap, bertentangan dengan prinsip mekanika kuantum.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal General Relativity and Gravitation mengusulkan pendekatan berbeda. Alih-alih menguap sepenuhnya, lubang hitam diduga meninggalkan sisa kecil yang stabil atau remnant, yang menyimpan seluruh informasi yang pernah diserapnya.

Dikutip dari Live Science, peneliti utama, Richard PinĨák dari Akademi Ilmu Pengetahuan Slovakia, menjelaskan bahwa solusi ini bergantung pada keberadaan tiga dimensi tambahan yang tidak dapat diamati manusia.

Dengan demikian, ruang-waktu tidak hanya terdiri dari empat dimensi (tiga ruang dan satu waktu), tetapi total tujuh dimensi.

Dalam model ini, dimensi tambahan tersebut “terlipat” dalam struktur geometris kompleks yang menghasilkan efek fisik berupa gaya tolak. Gaya ini muncul akibat fenomena yang disebut torsion, yakni semacam “puntiran” pada ruang-waktu.

Efek tersebut menjadi krusial pada tahap akhir kehidupan lubang hitam. Ketika lubang hitam menyusut akibat radiasi Hawking, gaya tolak ini akan menghentikan proses penguapan sebelum objek tersebut benar-benar lenyap.

Akibatnya, lubang hitam tidak hilang sepenuhnya, melainkan berubah menjadi sisa mikroskopis yang sangat kecil namun stabil. Sisa ini diyakini mampu menyimpan informasi dalam bentuk getaran halus yang disebut quasinormal modes, sehingga tidak melanggar hukum mekanika kuantum.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan keterkaitan antara fenomena lubang hitam dengan fisika partikel. Struktur dimensi tambahan dan efek torsion dalam model ini berkaitan dengan mekanisme Higgs, yaitu proses yang memberi massa pada partikel dasar seperti elektron dan quark.

Meski menawarkan perspektif baru, teori ini masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah keterbatasan dalam menguji hipotesis tersebut secara langsung, karena skala energi yang dibutuhkan jauh melampaui kemampuan teknologi saat ini.

Namun demikian, model ini tetap dianggap ilmiah karena menghasilkan prediksi yang dapat diuji di masa depan, misalnya melalui pengamatan lubang hitam purba atau deteksi partikel hipotetis dari dimensi tambahan.

Para peneliti menilai, jika teori ini terbukti, maka pemahaman manusia tentang gravitasi, mekanika kuantum, dan struktur dasar alam semesta dapat berubah secara signifikan. (*)

TERKINI
Iran Diperkirakan Dapat Rp258 Triliun dari Tarif Selat Hormuz Bernardo Silva Resmi Tinggalkan Manchester City Akhir Musim Ini Big Match Manchester City vs Arsenal Panaskan Pekan ke-33 Liga Inggris SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa untuk Saling Menguatkan