Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Waspadai Lonjakan Penyakit Ini

Rabu, 15/04/2026 11:05 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Musim kemarau 2026 diperkirakan tidak sekadar datang lebih awal, tetapi juga berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata 30 tahun terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kondisi ini perlu diwaspadai, meski bukan berarti masuk kategori ekstrem seperti yang ramai disebut di ruang publik.

“Jika dibandingkan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun bukan yang terparah,” ujarnya dalam diskusi Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta, Selasa (15/4/2026).

BMKG mencatat, kondisi kemarau pada tahun ini masih berada di bawah intensitas tahun-tahun ekstrem seperti 1997 dan 2015, namun lebih kering dibanding 2023. Artinya, dampaknya tetap signifikan terutama pada ketersediaan air bersih dan kesehatan masyarakat.

Kemarau Lebih Kering, Risiko Kesehatan Meningkat

Kondisi panas, udara kering, serta meningkatnya debu selama musim kemarau dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mengacu pada data Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penurunan curah hujan juga berpotensi memperburuk akses air bersih di sejumlah wilayah.

Dampaknya tidak hanya lingkungan, tetapi langsung terasa pada tubuh manusia, mulai dari infeksi pencernaan hingga gangguan pernapasan.

Berikut penyakit yang paling perlu diwaspadai saat kemarau dikutip dari laman Pusat Krisis Kemenkes:

1. Diare dan Muntaber

Krisis air bersih menjadi pemicu utama meningkatnya kasus diare. Air yang terkontaminasi bakteri seperti E. coli dapat menyebar lebih cepat saat pasokan air menurun.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian ekstra karena risiko dehidrasi berat yang bisa berujung fatal.

2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Debu yang beterbangan serta kualitas udara yang menurun selama kemarau menjadi pemicu utama ISPA. Gejalanya mulai dari batuk, sesak napas, hingga infeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit paru menjadi kelompok paling berisiko.

3. Flu, Batuk, dan Pilek

Udara kering membuat virus lebih mudah menyebar, sementara tubuh yang mengalami dehidrasi cenderung memiliki daya tahan lebih lemah.

Kombinasi ini membuat penyakit ringan seperti flu lebih mudah menular dan bertahan lebih lama.

4. Gangguan dan Infeksi Mata

Debu yang meningkat selama musim kemarau dapat menyebabkan iritasi mata hingga konjungtivitis. Kondisi ini sering ditandai dengan mata merah, gatal, berair, dan terasa perih.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat mengganggu aktivitas harian dan menurunkan kualitas penglihatan sementara.

Kenapa Kemarau 2026 Perlu Diwaspadai?

Meski bukan yang paling ekstrem, musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Artinya, tekanan terhadap sumber daya air dan kesehatan masyarakat akan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kondisi ini membuat mitigasi sejak dini menjadi kunci penting, terutama di wilayah yang sudah rawan kekeringan.

Cara Mengurangi Risiko Dampak Kesehatan Saat Kemarau

Masih mengacu pada data Pusat Krisis Kemenkes, terdapat beberapa langkah sederhana bisa membantu menekan risiko penyakit selama musim kemarau:

Perbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi Gunakan masker saat berada di luar ruangan, terutama di area berdebu Jaga kebersihan tangan, terutama sebelum makan Pastikan air minum benar-benar bersih dan matang Konsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, risiko penyakit selama musim kemarau dapat ditekan secara signifikan. Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan menjadi kunci utama menghadapi musim kering dengan lebih aman. (*)

 

TERKINI
Bolehkah Langsung Salat Setelah Mandi Junub Tanpa Wudhu? Jerman Suntik Dana Tambahan Rp404 Miliar untuk Krisis Sudan Iran Gunakan Satelit Mata-Mata China Intai Pangkalan Militer AS 8 Asia Telah Larang Penggunaan Vape, Indonesia Menyusul?