Selasa, 14/04/2026 15:11 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Selasa (14/4), untuk memberikan klarifikasi atas pernyataannya terkait dugaan keterlibatan oknum di Madura dalam jaringan narkoba yang menuai polemik di masyarakat.
Pemanggilan tersebut dilakukan menyusul beredarnya potongan video pernyataan Aboe Bakar dalam rapat kerja bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), yang kemudian memicu kritik karena dinilai terlalu general dan menyentuh institusi keagamaan.
“Hari ini saya dipanggil oleh MKD untuk memberikan keterangan sehubungan dengan beredarnya potongan video pernyataan saya dalam rapat kerja bersama BNN yang kemudian menimbulkan polemik di tengah masyarakat, khususnya di kalangan ulama dan masyarakat Madura,” katanya.
Legislator Minta Pemerintah Susun Kebijakan Seimbang untuk Rokok Elektrik
Pemerintah Diminta Intervensi Lonjakan Harga Plastik yang Tekan UMKM
Komisi I DPR Soroti Isu Akses Udara AS: Kedaulatan RI Tak Bisa Ditawar
Dalam klarifikasinya, Habib Aboe Bakar menyampaikan permohonan maaf kepada para ulama, kiai, serta masyarakat Madura yang merasa tersinggung. Ia mengakui pernyataannya telah menimbulkan persepsi seolah-olah menyudutkan ulama atau pesantren.
“Saya menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk menghina atau mendiskreditkan ulama,” ujarnya seraya menjelaskan kalau pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinan terhadap ancaman peredaran narkotika yang dinilai semakin meluas dan menyasar berbagai lapisan masyarakat.
Menurut mantan Wakil Ketua MKD DPR RI itu, ajakan tersebut ditujukan kepada semua pihak, termasuk lembaga pendidikan keagamaan, agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan. Namun demikian, ia mengakui cara penyampaiannya kurang tepat sehingga menimbulkan multitafsir di publik.
"Sebagai bentuk tanggung jawab, saya telah melakukan komunikasi untuk melakukan safari silaturahmi ke sejumlah pihak dengan didampingi tokoh masyarakat," ucapnya.
Di sisi lain, Habib Aboe Bakar menegaskan bahwa ulama dan pesantren merupakan pilar penting dalam menjaga moral bangsa. Ia menilai peran ulama sangat strategis dalam upaya edukasi dan pencegahan penyalahgunaan narkotika.
Peristiwa ini, lanjut dia, menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik. Ia juga berkomitmen menjaga etika dan kehormatan sebagai anggota DPR RI.