Perkuat Pertahanan, Australia Siapkan Rp60 Triliun untuk Belanja Drone

Selasa, 14/04/2026 12:20 WIB

Sydney, Jurnas.com - Australia akan meningkatkan belanja drone hingga A$5 miliar atau Rp60 triliun, sebagai respons terhadap perubahan pola peperangan yang terlihat di Timur Tengah.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Australia Richard Marles pada Selasa (14/4), sebagaimana dikutip dari AFP.

Garis pantai Australia yang sangat luas dan jumlah penduduk yang relatif kecil selama ini mendorong fokus pengembangan kapal selam otonom besar dan jet tempur, yang diberi nama Ghost Shark dan Ghost Bat.

Namun, menurut Marles, penggunaan drone murah yang diproduksi massal oleh Iran dalam konflik di Timur Tengah dan Ukraina mendorong keputusan untuk turut meningkatkan belanja pada drone berukuran lebih kecil dan sistem anti-drone.

"Kita melihat apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini—kita juga membutuhkan teknologi anti-drone," ujar Marles.

Dia menyebut Australia akan menggelontorkan A$12 miliar hingga A$15 miliar selama satu dekade ke depan untuk kemampuan otonom. Marles membeberkan hal ini menjelang pembaruan strategi pertahanan nasional yang akan dirilis pada 16 April.

"Jelas bahwa sistem otonom kini benar-benar menjadi inti dari bagaimana pertarungan terjadi, bagaimana perang terjadi," kata dia.

Marles menekankan bahwa Australia membutuhkan spektrum penuh kemampuan drone untuk pertahanannya mengingat kondisi geografisnya yang unik.

"Pada skala yang lebih kecil, yang Anda dapatkan adalah massa, banyak unit, dan itulah yang kita saksikan terjadi di Ukraina," dia menambahkan.

Waspada terhadap penguatan armada Angkatan Laut China, Australia selaku sekutu AS dalam beberapa tahun terakhir telah merombak kekuatan pertahanannya untuk berfokus pada kemampuan serangan rudal dan pencegahan ancaman dari arah utara wilayahnya.

Kemitraan pertahanan AUKUS yang dijalin Australia bersama AS dan Inggris bertujuan mengalihkan teknologi kapal selam bertenaga nuklir ke Australia pada dekade mendatang.

Sementara itu, Jerman pada Maret lalu dikabarkan tengah mempertimbangkan penggunaan Ghost Bat buatan Australia, yang dirancang untuk terbang berdampingan dengan jet tempur dan kembali ke pangkalan, dalam modernisasi angkatan udaranya.

TERKINI
Besok 1 Juni, 34.853 Haji Indonesia Kembali ke Tanah Air Israel Caplok Situs Budaya Kastel Beaufort di Lebanon Selatan IRGC Sebut Tembak Jatuh Drone AS yang Melintasi Perairan Iran Berkaca dari Perang Irak, Trump Sebut AS Tak akan Ganggu Militer Iran