Jum'at, 27/03/2026 14:01 WIB
Washinton, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran masih berada dalam koridor kerangka waktu yang direncanakan.
Meski perang kini memasuki pekan keempat tanpa tanda-tanda gencatan senjata permanen, Trump menyebut bahwa pencapaian militer di lapangan justru melampaui target awal yang ditetapkan selama empat hingga enam minggu.
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (26/3), Trump menekankan bahwa intensitas serangan AS telah melumpuhkan banyak titik vital di Iran dalam waktu singkat.
"Jika Anda melihat apa yang telah kami lakukan dalam hal penghancuran negara itu, maksud saya, kami jauh lebih cepat. Setelah 26 hari berjalan, kami benar-benar jauh lebih cepat dari jadwal," kata Trump.
Taiwan Pilih Kalem jelang Kunjungan Trump ke China
Iran Ancam Buka Medan Pertempuran Baru Jika AS-Israel Lanjutkan Agresi
Trump Ancam "Ledakkan" Pihak Mana Pun yang Dekati Cadangan Uranium Iran
Di tengah isu yang menyebut Washington sedang terdesak untuk mengakhiri konflik, Trump justru memberikan pernyataan sebaliknya.
Lebih lanjut, ia membantah kabar bahwa dirinyalah yang mengejar jalur diplomasi, dan menegaskan bahwa pihak Teheran-lah yang kini aktif memohon untuk kembali ke meja perundingan.
"Mereka memohon agar bisa mencapai kesepakatan," ujar Trump.
Menurutnya, keputusan untuk menghentikan serangan sepenuhnya bergantung pada kemampuan Iran dalam meyakinkan Amerika Serikat.
Meski demikian, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump secara internal telah menginstruksikan para sekutu bahwa ia ingin konflik ini tuntas dalam beberapa pekan ke depan.
Langkah diplomatik tampaknya mulai digodok di balik layar. Berdasarkan laporan CNN yang dikutip pada Jumat (27/3), Gedung Putih tengah mengupayakan pertemuan strategis di Pakistan pada akhir pekan ini.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik balik untuk menemukan jalan keluar dari krisis global ini.
Konflik yang dipicu oleh serangan udara besar-besaran AS dan Israel sejak 28 Februari lalu telah memberikan dampak sistemik pada dunia.
Selain mengganggu jalur logistik maritim, eskalasi ini terus menekan perekonomian global melalui lonjakan harga minyak mentah yang signifikan.