Senin, 09/03/2026 19:40 WIB
Paris, Jurnas.com - Sejumlah menteri keuangan yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G-7) membahas opsi pelepasan bersama cadangan minyak, dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin (9/3).
Hal ini dilakukan lantaran pasokan minyak terganggu oleh perang gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Selat Hormuz yang menjadi rute penting distribusi minyak, telah ditutup oleh Teheran.
Dikutip dari Financial Times, AS mendukung gagasan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama. Namun, hingga kini belum ada keputusa yang diambil oleh para negara anggota G-7.
"Langkah tersebut akan dikoordinasikan dengan Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris," kata salah seorang sumber anonim yang dilansir Reuters.
Kenaikan Harga Kondom Picu Penimbunan Stok Besar-besaran di China
AS Langgar Gencatan Senjata, Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz
Krisis Obat-obatan di Sudan Memburuk Akibat Perang AS vs Iran
Pengurangan persediaan strategis secara terkoordinasi baru dilakukan lima kali sebelumnya, dua kali sebagai respons terhadap invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Sebelum itu, cadangan diakses setelah gangguan pasokan di Libya, Badai Katrina, dan selama Perang Teluk pertama.
Minyak mentah Brent melonjak hingga hampir US$120 (S$154) per barel pada 9 Maret, harga turun dari sekitar US$72 sebelum perang, karena penutupan Selat Hormuz yang efektif sebagian besar menjebak ekspor dari produsen minyak Teluk Persia.
Beberapa perusahaan pengeboran besar, termasuk Uni Emirat Arab dan Irak, telah terpaksa mengurangi produksi karena kurangnya fasilitas penyimpanan, sementara Arab Saudi berupaya keras untuk mengalihkan kargo ke Laut Merah.
Kabar tentang potensi penarikan cadangan membantu mengurangi sebagian dari kenaikan harga tersebut, dan harga Brent kembali turun mendekati US$107 per barel.