Rabu, 11/02/2026 05:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, mengungkapkan partisipasi masyarakat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) masih belum optimal.
Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran warga untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka.
“Kendala utama program CKG adalah kesiapan masyarakat,” kata dia di Jakarta, pada Selasa (10/2).
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat merasa cemas jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit, karena khawatir akan menghadapi berbagai pembatasan dalam kehidupan sehari-hari.
Lestari Moerdijat: Kesehatan Perempuan Menentukan Arah Masa Depan Bangsa
Kasus Dengue di Indonesia Capai 30 Ribu, Sasar Usia Produktif
Kemenkes Catat Penurunan Kasus Campak, Pastikan Surveilans Tetap Ketat
Menurutnya, muncul anggapan setelah pemeriksaan orang akan menerima banyak larangan, terutama terkait pola makan dan gaya hidup.
“Ada larangan makan, ada inilah, itulah. Ini yang kami temukan,” kata Asnawi.
Padahal, pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis profesional dengan dukungan peralatan medis justru bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sebenarnya.
Dari hasil tersebut, langkah pencegahan maupun penanganan dapat dilakukan agar kesehatan membaik.
Ia mencontohkan kasus stroke yang sering dipicu tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut sebenarnya tidak terjadi secara mendadak, melainkan didahului tanda-tanda tertentu.
“Jika diperiksa lebih awal, maka akan ada rekomendasi atau upaya yang dilakukan agar orang ini tidak terkena stroke,” kata dia.
Asnawi pun mengajak masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis yang telah berjalan agar status kesehatan dapat diketahui dan penanganan yang tepat dapat segera dilakukan.
“Fokus utama setelah pemeriksaan adalah tindak lanjut agar kembali sehat,” ujarnya.