Ribuan Demonstran, Tolak Kebijakan "Perang Narkoba" Duterte

Minggu, 26/02/2017 18:01 WIB

Jakarta - Kebijakan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte terkait perang narkoba, ditentang ribuan orang yang berunjuk rasa di jalanan Kota Manila. Aksi yang tepatnya di Markas Kepolisian Nasional Filipina itu, mengganggap kebijakan pemerintah brutal dan terpolarisasi.

Aksi di markas kepolisian itu, juga tempat ditahannya Senator Leila de Lima yang mengkritik keras Duterte.  Mantan Presiden Filipina, Benigno Aquino juga terlihat bergabung dalam kerumunan pengunjuk rasa.

Bagi para mendemo, kebijakan itu dikhawatirkan memicu terulangnya pemerintahan otoriter yang pernah terjadi di masa kepemimpinan diktaktor Ferdinand Marcos.  "Kami menyikapi masalah ini dengan serius. Kami memperingatkan warga FIlipina terhadap ancaman meningkatnya fasisme," ujar pemimpin protes,  Bonifacio Ilagan dilansir AFP.

Menurut Ilagan, dikhawatirkan kampanye narkoba Duterte memicu budaya impunitas bagi aparat keamanan dan pemerintah. Apalagi, Duterte telah membebaskan  hukuman bagi polisi yang membunuh setiap penjahat dan kriminal narkoba. Kisaran 2 ribu terduga pengedar narkoba tewas di tangan polisi tanpa melalui proses hukum yang jelas.

Kebijakan tersebut dikecam banyak negara. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah melayangkan kekhawatiran mereka mengenai dugaan pembunuhan massal di luar hukum yang dilakukan Duterte dalam kebijakannya tersebut. Meski dikecam nternasional, masih banyak pihak yang mendukung kebijakan mantan Wali Kota Davao itu.

Aksi ini sempat ricuh,  Tayangan televisi menunjukan  kepolisian menyiram ratusan pendemo dengan air untuk meredam aksi mereka. Tak ada ada yang terluka serius akibat perbuatan polisi tersebut.

TERKINI
CENTOM Sebut Hampir 400 Tentara AS Terluka dalam Perang Iran Tanda Tubuhmu Perlu Detoks Media Sosial, Baik untuk Mental Vidic Nilai Carrick Sosok yang Tepat Tangani Manchester United Kualitas Sperma Capai Puncak di Musim Panas, Benarkah Pengaruhi Kesuburan?