Selasa, 22/08/2023 09:39 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Pemerintah Jepang mengatakan, Korea Utara telah memberi tahu pihaknya terkait rencana mereka meluncurkan satelit militer dalam beberapa hari mendatang.
Kantor Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida mengatakan Pyongyang telah memberi tahu Jepang tentang peluncuran yang direncanakan, dan bahwa Kishida telah menginstruksikan pemerintahnya untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, dan negara lain untuk mendesak pembatalannya.
"Kami sangat mendesak Korea Utara untuk menahan diri dan tidak melakukan peluncuran," tulis kantor Kishida di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Penjaga Pantai Jepang mengatakan, peluncuran roket satelit akan dilakukan antara tanggal 24 dan 31 Agustus, dengan tiga wilayah yang ditetapkan berbahaya: Laut Kuning, Laut Cina Timur, dan perairan timur pulau Luzon, Filipina.
IAEA: Korea Utara Capai Kemajuan Signifikan dalam Produksi Senjata Nuklir
Iran Gunakan Satelit Mata-Mata China Intai Pangkalan Militer AS
Uji Coba Rudal Jelajah, Kim Jong Un Saksikan dari Kapal Perusak
Pada Mei, Pyongyang meluncurkan apa yang disebutnya sebagai satelit pengintaian militer pertamanya, namun roket peluncuran satelit "Chollima-1" yang baru berakhir dengan kegagalan. Kantor berita negara KCNA mengatakan itu karena ketidakstabilan pada mesin dan sistem bahan bakar.
Jepang, AS, dan Korea Selatan mengecam peluncuran tersebut sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB yang melarang negara bersenjata nuklir tersebut menggunakan teknologi rudal balistik.
Analis mengatakan ada tumpang tindih yang signifikan antara pengembangan rudal balistik antarbenua dan kemampuan peluncuran ruang angkasa.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un telah menjadikan pengembangan satelit mata-mata militer sebagai prioritas dari rencana modernisasi militernya.
Korea Selatan menyelamatkan puing-puing dari peluncuran tanggal 31 Mei dalam operasi yang melibatkan armada kapal penyelamat angkatan laut, penyapu ranjau, dan penyelam laut dalam.
Setelah menganalisis bagian-bagiannya, Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa satelit itu tidak memiliki utilitas militer.
Peluncuran tersebut merupakan upaya keenam Korea Utara untuk menempatkan satelit ke orbit, dan yang pertama sejak 2016.
Sumber: Al Jazeera