Selasa, 28/02/2023 02:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan masih banyak sekolah yang berada di kawasan 3T, memiliki tingkat literasi dan numerasi pada level satu atau sangat rendah.
Data itu mengacu pada hasil Asesmen Nasional (AN) tahun 2021. Dan secara keseluruhan, satu dari dua peserta didik jenjang SD hingga SMA, belum mencapai kompetensi minimum literasi.
"Sekolah-sekolah yang berada di level satu dan di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) ini membutuhkan intervensi khusus, sehingga kami menjadikannya sebagai satuan pendidikan penerima buku bacaan bermutu pada program pengiriman buku ini," kata Nadiem saat meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-23: Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia, pada Senin (27/2) kemarin.
Mendikbudristek menilai, peningkatan kompetensi literasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengirimkan buku ke sekolah tanpa pendampingan. Untuk itu, pada program kali ini pihaknya memfasilitasi sekolah dengan pelatihan dan pendampingan agar buku yang dikirimkan dapat dimanfaatkan secara tepat.
Raih KWP Award 2026, Amelia Komit Jaga Ruang Digital yang Sehat dan Aman
Kemdikdasmen Gandeng Sejumlah Mitra Perkuat Literasi dan Numerasi
Kemendes PDT Ajak Baznas Kolaborasi Wujudkan Desa Zakat
Pendekatan ini, dikatakan Mendikbudristek sudah terbukti mampu meningkatkan kompetensi literasi peserta didik, beradasarkan survei yang dilakukan kepada siswa kelas 1-3 SD.
Nadiem melanjutkan, pelatihan yang disertai pengiriman buku bacaan, meningkatkan nilai literasi peserta didik sebanyak delapan persen pada kemampuan membaca, dan sembilan persen pada kemampuan mendengar.
"Buku bacaan yang kami kirimkan ke sekolah melalui program ini terdiri dari buku-buku yang berperan sebagai jendela, pintu geser, dan cermin bagi pembaca anak," tutup dia.