Jum'at, 20/01/2023 15:35 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau dikenal Operasi Pasar beras yang dilakukan pemerintah untuk menekan harga beras di pasaran tak mempan. Perusahaan Perum Bulog menduga ada mafia.
"Kita sudah lakukan intervensi pasar, cuman saya tidak tahu kenapa begitu banyaknya kita lepas, harganya tetap tinggi. Pasti ada sesuatu. Saya juga tidak bodoh-bodoh amat kalau tanda kutip ada mafia, memang ada," ucap Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso di Jakarta, Jumat (20/1).
Buwas, sapaan Budi Waseso, mengatakan mafia tersebut hadir ketika Bulog melakukan intervensi harga beras ke pasar. Harga beras tersebut dijual dari gudang Bulog seharga Rp 8.300, tetapi sampai ke pedagang lebih dari itu.
"Kemarin kita intervensi kayak menggarami lautan. Begitu kita intervensi harga nggak turun. Saya bilang pasti ada masalah. Betul, setelah saya cek dan ricek banyak pedagang melapor ke saya `karena saya membelinya sudah mahal pak, sekian-sekian` `karena saya membelinya tidak bisa melalui Bulog harus melalui ini ini," ungkap Buwas.
Awal 2026, Bapanas Pastikan Stok Beras Aman dan Harga Terkendali
Komisi IV: Kebijakan Rayonisasi Harga Beras Tidak Adil!
Komisi IV Minta Pemerintah Tidak Tangan Besi Intervensi Harga Beras
Mantan Kepala Badan narkotika nasional (BNN) itu mengaku sudah mengontongi siapa saja mafia tersebut. Karena itu, dia memperingatkan para mafia untuk tidak lagi mengintimidasi pedagang beras.
"Tidak ada mafia-mafiaan, ngapain kumpulin pedagang diintimidasi. Jangan dipikir saya tidak tahu, ada rekamannya semua, siapa yang hadir saya tahu, di mana tempatnya saya tahu. Masalah beras untuk masyarakat dipakai mainan. Jangan merasa hebat, ngancam-ngancam," tegas Buwas.
Buwas juga telah mempersilakan seluruh pedagang beras untuk langsung membeli beras ke Bulog dengan harga beras Rp 8.300 per kg. "Setiap pedagang beras berhak mendapatkan dengan harga murah. Saya melepasnya dengan harga Rp 8.300 per kg.
Dia juga menegaskan tidak akan memberikan beras kepada para mafia tersebut. "Orang yang mengintimidasi (pedagang) tidak akan saya kasih sebutir pun," tegas Buwas.
Selanjutnya, dia juga menegaskan bahwa Bulog tidak berdagang dan cari untung. "Perlu saya jelaskan di sini, khususnya temen-temen pedagang beras bahwa tugas Bulog itu bukan dagang, bukan cari untung," tegas Buwas.
Bahkan, lanjut Buwas, keputusan impor beras juga bukan atas dasar keinginan Bulog, melainkan penugasan langsung dari negara untuk menambah stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang menipis.
"Impor juga bukan maunya Bulog karena itu perintah. Kenapa akhirnya negara harus mengimpor? Karena suplainya kurang. Kenapa kurang? Karena sesuatu. Kita tidak usah mencari kambing hitam terus nyalahin siapa-siapa. Enggak. Tapi ini memang situasinya seperti itu," ucap Buwas.