Pendidikan Pecinta Alam Tak Harus Pakai Kekerasan

Kamis, 26/01/2017 10:45 WIB

Jakarta - Meninggalnya tiga mahasiswa yang ikut dalam pendidikan dasar (Diksar) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UII Yogyakarta mendapat reaksi dari sejumlah kalangan.

Seorang pecinta alam dari UI, M Akbar Hariadi menyebut sistem pelatihan yang menjurus pada kekerasan sudah tidak perlu dilakukan lagi dalam Komunitas Pecinta Alam (KPA).

"Meski kegiatan alam bebas memiliki resiko yang tinggi, bukan berarti kegiatan (latihan dengan kekerasan) ini tidak memiliki manfaat," ujarnya dalam petidak sebuah tulisan yang ia rilis.

Ia mengakui, kegiatan alam bebas memiliki risiko bahaya kecelakaan dan menguras fisik yang sangat berat. Pendidikan Dasar dalam KPA pun memang harus disiapkan secara matang. Karena itu, yang harus dilakukan adalah membuat peninjauan ulang dan standarisasi terhadap metode Diksar, di mana sebuah pendidikan tidak seharusnya menggunakan kekerasan dalam penyampaian ilmunya.

Diberitakan sebelumnya, tiga mahasiswa anggota Mapala UII Yogyakarta meningal saat mengikuti diksar mapala di hutan Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Polisi masih mendalami kasus ini dan mencari tersangkanya.

Ada 11 saksi yang dimintai keterangan dalam kasus ini. Polisi juga meminta keterangan dari keluarga korban yang ikut mendampingi sesaat sebelum korban meninggal dunia. Serta keterangan dari peserta diksar.

Keyword : Mapala Tewas UII

TERKINI
Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya Kebiasaan Buruk yang Bisa Menyebabkan Paru-paru Basah Bolehkah Meminta Kematian Saat Ditimpa Ujian Berat? Ini Hukum Pamer Kekayaan atau Flexing dalam Islam