Senin, 23/01/2017 16:03 WIB
Jakarta - Staf Menteri Kordinator Perekonomian Bobby Harafinus mengatakan isu Sara (suku, agama, ras dan antargolongan) dan aksi radikalisme yang meningkat saat ini secara signifikan berpengaruh pada melemahnya sejumlah sisi ekonomi. Menurutnya, dua hal tersebut dengan sistematis memicu sentimen negatif pada aspek pasar modal dan keuangan.
"Kalo kita lihat dalam perjalanan tahun 2016, maka ada beberapa indikator yang memang terkait dengan isu SARA dan aksi radikalisme ini. Terutama yang kami perhatikan lebih pada masalah keuangan. Kalo kita lihat dimulai dari terjadinya bom di seputaran kawasan Thamrin (Jakarta), juga yang ada demo di bulan November dan Desember, maka indikator yang mencolok adalah indikator pasar modal dan pasar keuangan," ujar Bobby saat menjadi pembicara pada diskusi bertema SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi Indonesia yang digelar DPP PKB di Finance Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin (23/1/2017).
Bobby mengatakan fluktuasi dari perkembangan indeks harga saham dan pergerakan arus modal memperlihatkan adanya kaitan langsung dengan isu SARA dan aksi-aksi Radikalisme. "Jadi kami melihat sara dan radikalisme ini mengacu pada sentimen di tingkat pasar modal dan keuangan belum masuk kepada permformance yang ada di perekonomian secara umum," ucapnya.
Bobby mengakui adanya gejala perlambatan ekonomi Indonesia saat ini. Hanya saja, kata dia, indikatornya tidak dipengaruhi faktor peristiwa dalam negeri. "Jadi tadi kalo mbak Hera (moderator diskusi) mengatakan perlambatan terjadi, adalah merupakan fenomena global. Kalo kita memang belum bisa beranjak dari 5 persen. Karena secara global saat ini kecenderungannya melambat. Itu yang saya lihat," tutur dia.
DPR Minta OJK Terbuka Terima Koreksi dari MSCI
Seminggu Bentrok, Inggris Bebaskan Tahanan Lama untuk Menampung 400 Perusuh
Meski Sebagian Wilayah Rusuh, Kedubes Inggris Yakinkan Warga Indonesia Tetap Disambut Hangat
Keyword : Isu Sara Radikalisme Pasar Saham