Sabtu, 19/11/2022 15:21 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia menuduh Ukraina mengeksekusi lebih dari 10 tawanan perang Rusia dalam apa yang dikatakan Moskow sebagai kejahatan perang, tuduhan pelecehan terbaru dalam perang yang berlangsung hampir sembilan bulan.
Kemhan tersebut mengutip sebuah video yang beredar di media sosial Rusia yang katanya menunjukkan eksekusi tentara Rusia. Reuters tidak dapat segera memverifikasi video atau klaim kementerian pertahanan tersebut.
"Pembunuhan brutal terhadap prajurit Rusia ini bukanlah yang pertama, atau satu-satunya kejahatan perang," kata Kemhan Rusia. "Ini adalah praktik umum di Angkatan Bersenjata Ukraina yang secara aktif didukung oleh rezim Kyiv dan diabaikan secara terang-terangan oleh pelindung Baratnya."
Tidak ada tanggapan langsung dari Kyiv terhadap klaim Moskow. Ukraina telah berulang kali menuduh Rusia melakukan kejahatan perang, klaim yang dibantah Rusia.
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Drone Ukraina Hantam Tiga Kapal Perang Rusia di Krime
Eropa Kekurangan Mesin Jet untuk Sokong Program Drone Ukraina
Video itu memperlihatkan tentara Rusia tergeletak di tanah di Makiivka, di wilayah Luhansk di Ukraina timur, setelah menyerah kepada orang-orang bersenjata dengan pita kuning di lengan mereka.
Kemudian tembakan otomatis terdengar dan video menunjukkan mayat-mayat itu. Sekitar 12 mayat ditampilkan. Tidak jelas kapan video itu direkam atau siapa yang merekamnya.
Kemhan Rusia mengatakan video itu menunjukkan pembunuhan yang disengaja dan metodis terhadap lebih dari 10 prajurit Rusia yang tidak bisa bergerak oleh tentara Ukraina yang merosot.
Kementerian pertahanan mengatakan video itu adalah tanda sifat kejam Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan rezimnya di Kyiv, dan mengatakan ia akan "menjawab di hadapan pengadilan sejarah dan rakyat Rusia dan Ukraina.
Komite Investigasi Rusia, yang menyelidiki kejahatan serius, mengatakan kemudian telah membuka kasus pidana atas eksekusi setidaknya 11 prajurit Rusia yang tidak bersenjata.
Dalam sebuah pernyataan, dikatakan para penyelidik bekerja untuk mengidentifikasi orang-orang yang merekam video tersebut.