Jum'at, 14/10/2022 16:01 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa peningkatakan produktivitas pertanian tidak mungkin lagi dilakukan dengan ala kadarnya.
"Tidak mungkin produktivitas bisa meningkat signifikan kalau dengan cara-cara ala kadarnya. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan cara-cara cerdas (smart farming) untuk meningkatkan produktivitas, menjamin kualitas, dan kontinuitas," kata Dedi pada acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 38 dengan tema "Sistem Pembenihan Padi Nasional", Jakarta, Jumat (14/10).
Disebutkan Dedi bahwa salah satu ciri dari smart farming adalah pemanfaatan varietas unggul (high yielding varieties), pemanfaatan produk biosains, dan pemanfaatkan produk teknologi.
"Jadi, produk biosains yang paling utama adalah varietas-varietas yang berpotensi hasil tinggi dan tahan terhadap perubahan iklim," kata Dedi.
Embung dan Smart Farming Dinilai Penting untuk Swasembada Pangan
Swasembada Solusi untuk Memenuhi Kebutuhan Padi Nasional
Tingkatkan Produksi Padi Musim Kemarau, Kementan Siap Latih Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian
Menurut Dedi, varietas mempunyai peranang yang sangat penting dalam menggenjot produktivitas pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunana, maupun komoditas peternakan.
"Kalau kalian mau main di pertanian baik di tanaman pangan, kalian perlu bibit dan benih yang unggul. Di hortikultura juga begitu, perkebunan juga begitu. Di peternakan kalian juga butuh bibit yang unggul," tutur Dedi.
Hal ini selaras yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang terus mendorong peningkatan kualitas varietas benih padi. Benih padi memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas beras sebagai salah satu pangan pokok strategis di Indonesia dan mendukung ekspor beras.
"Tanpa benih varietas unggul, kita tidak akan bisa surplus beras seperti yang kita bisa rasakan saat ini sehingga tidak perlu impor beras lagi. Jadi peningkatan produktivitas beras harus jadi tantangan kita bersama karena beras sangat penting bagi kehidupan Bangsa," ujar Mentan.
SYL mengatakan, sesuai data produktivitas padi Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara-negara FAO di Benua Asia. Urutannya yakni, Vietnam, Indonesia, Bangladesh, Filipina, India, Pakistan, Myanmar, Kamboja, Thailand.
Kepala Balai Besar Padi, Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Yudi Sastro yang menjadi narasumber MSPP menjelaskan, misi BSIP yaitu menghasilkan teknologi dan inovasi padi bernilai scientific dan impact recognition untuk mendukung pertanian maju, mandiri, dan modern.
Yudi Sastro mengatakan bahwa penggunaan benih padi unggul bermutu merupakan kunci utama keberhasilan budidaya padi.Tingkat produktivitas padi Indonesia pada level Asia Tenggara masih di bawah Vietnam dan peringkat ke lima pada level dunia (FAO, 2020)
Saat ini penggunaan benih padi unggul bermutu masih tergolong rendah, yakni di bawah 50 persen dari luasan pertanaman padi secara nasional per tahun," jelas Yudi Sastro.
Lebih lanjut ia menjelaskan, penggunaan benih padi unggul bermutu masih rendah, dikarenakan lemahnya penderasan arus informasi terkait varietas unggul dan pentingnya benih unggul bermutu di tingkat petani dan juga belum memadai dan optimalnya tool berbasis digital yang dimiliki oleh BB Padi.
"Untuk meningkatan pengelolaan distribusi benih dapat dilakukan dengan cara penderasan informasi padi dengan menggunakan Strategi MLK (Making Launching Kicking) melalui berbagai platform media sosial Operasionalisasi aplikasi marketplace benih padi BANGBEN yang telah dibangun sebelumnya dan juga membangun sistem ketertelusuran benih sumber padi berbasis digital," imbuh Yudi Sastro.