Rabu, 10/08/2022 21:59 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Berbagai kalangan memberi respon positif terhadap Program Bapak Asuh Anak Stunting yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
"Saat ini ada 9.357 anak stunting dan 7.567 keluarga berisiko stunting yang telah mendapatkan Bapak dan Bunda Asuh," kata Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo melalui keterangannya, Jakarta, Rabu (10/8).
Hasto menyebutkan dana yang terkumpul dalam program Bapak Asuh Anak Stunting nilainya Rp 19,2 miliar yang dikumpulkan dan disalurkan melalui pihak ketiga kepada kelompok sasaran.
Pihak ketiga yang terlibat dalam pengumpulan dan penyaluran dana Bapak Asuh Anak Stunting adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola donasi secara akuntabel untuk cakupan asuhan, wilayah, dan waktu tertentu.
Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ada Iming-Iming Foto Berhadiah
Kisah Pejuang Stunting di Tengah Minimnya Kesadaran Masyarakat, `Bersatu Kita Teguh Bertiga Kita Tangguh`
Sederet Fakta Penyebab Anak Menjadi Stunting, Ini Penjelasan BKKBN
"Pihak ketiga dapat berupa badan amal, institusi atau organisasi kemasyarakatan atau Lembaga lainnya yang sah," katanya.
Konsep program Bapak Asuh Anak Stunting sama dengan program orang tua asuh kebanyakan, yakni pihak donator membantu anak asuhnya, namun kali ini sasarannya adalah anak-anak stunting yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Dudung Abdurachman telah dikukuhkan sebagai Duta Bapak Asuh Anak Stunting. Pengukuhan Dudung yang dilaksanakan pada peringatan Harganas 29 Juni 2022 di Yogyakarta itu kemudian diikuti Kepala Staf Presiden Jenderal TNI (Purn). Moeldoko.
Beberapa perorangan juga telah menjadi Bapak Asuh Anak Stunting. Demikian juga BUMN, seperti PTPN V di Riau telah menjadi Bapak Asuh Anak Stunting.
Ada dua fokus asuhan yang akan diberikan donatur kepada keluarga berisiko stunting, yakni asuhan prioritas dan asuhan pendamping. Asuhan prioritas sendiri fokus pada dua kegiatan yaitu pemberian makanan tambahan.
Bapak Asuh akan langsung menyasar gizi anak asuhnya melalui makanan sehat yang dibuat oleh tim pendamping keluarga. Untuk nominalnya sendiri, donatur hanya cukup menyumbang Rp 450 ribu per bulan selama enam bulan berturut-turut.
Sedangkan asuhan pendamping yakni donatur dapat memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada keluarga berisiko stunting secara kelompok atau intrapersonal.
Stunting merupakan ancaman nyata bagi masa depan anak-anak dan Indonesia. Angka kasus stunting yang saat ini mencapai 24% masih melebihi ambang batas Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni prevelansi stunting kurang dari 20 persen.
Berbagai upaya telah dilakukan BKKBN) untuk menurunkan angka kasus stunting yang pada 2013 masih berada pada prevelansi 37,8 persen dan pada 2019 berhasil diturunkan menjadi 27,6% dan saat ini berada pada angka 24 persen.
BKKBN terus berupaya dengan berbagai cara untuk mencapai target penurunan stunting nasional menjadi 14 persen pada 2024.