Senin, 08/08/2022 09:50 WIB
Tokyo, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres memperingatkan bahaya yang mungkin terjadi, jika serangan terhadap pembangkit nuklir di Ukraina tidak dihentikan.
Hal ini disampaikan Guterres dalam konferensi pers di Tokyo pada Senin (8/8), usai Rusia dan Ukraina saling menyalahkan atas serangan terbaru di pembangkit nukir Zaporizhzhia, situs tenaga nuklir terbesar di Eropa.
Guterres mengutuk serangan semacam itu tanpa mengatakan kedua pihak bertanggung jawab. Sebab, serangan tersebut berisiko menimbulkan bencana nuklir.
"Kami mendukung IAEA dalam upaya mereka dalam menciptakan kondisi stabilisasi pabrik itu," kata Guterres dikutip dari AFP.
Zelensky Ajak Eropa Bentuk Sistem Pertahanan Anti Rudal Balistik
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Drone Ukraina Hantam Tiga Kapal Perang Rusia di Krime
"Setiap serangan ke pembangkit nuklir adalah bunuh diri. Saya berharap serangan itu akan berakhir, dan pada saat yang sama saya berharap IAEA akan dapat mengakses pembangkit tersebut," lanjut dia.
Tanggapannya terhadap seragan nuklir Ukraina disampaikan usai melakukan kunjungan ke Hiroshima selama akhir pekan lalu, di mana Guterres memberikan pidato untuk menandai peringatan 77 tahun serangan bom nuklir pertama di dunia.
Di kota Jepang pada Sabtu pekan lalu, ia memperingatkan bahwa "kemanusiaan bermain dengan senjata yang dimuat" sebagai krisis dengan potensi bencana nuklir berkembang biak di seluruh dunia, dari Ukraina ke Timur Tengah dan semenanjung Korea.
Dia juga menyampaikan peringatan keras terhadap kengerian senjata atom seminggu yang lalu di New York, dalam konferensi kunci Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, yang dia ulangi pada Senin ini.
"Kami menyaksikan radikalisasi dalam situasi geopolitik yang membuat risiko perang nuklir kembali menjadi sesuatu yang tidak bisa kami lupakan sepenuhnya," tegas dia.
Ketika ditanya tentang latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan, yang dipicu oleh kunjungan pekan lalu ke pulau yang diperintah sendiri oleh Ketua DPR AS Nancy Pelosi, Guterres memastikan bahwa PBB "mematuhi resolusi Majelis Umum, yang disebut kebijakan Satu China".
"Tapi kita semua ingin resolusi itu sesuai dengan lingkungan yang damai," imbuh dia sembari menyerukan akal sehat dan menahan diri untuk memungkinkan de-eskalasi yang sangat penting.
Keyword : Bencana Nuklir PBB Antonio Guterres Rusia Ukraina