Presiden Ungkap Tiga Fondasi Indonesia Menjadi Negara Ekonomi Besar Masa Depan

Sabtu, 06/08/2022 13:55 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa kekuatan ekonomi satu negara saat ini tidak dilihat dari besarnya negara, atau pada kekayaan negara tersebut namun kekuatan itu ada pada daya saing satu negara dengan negara lain.

Hal ini terlihat dengan runtuhnya ekonomi negara-negara besar di Eropa dan Amerika Serikat (AS), yang sudah dipastikan mengalami resesi ekonomi. Kehancuran ekonomi negara-negara besar ini berkaitan erat dengan perubahan geopolitik internasional akibat perang yang berujung pada hancurnya ekonomi negara-negara tersebut.

“Di masa depan, bukan negara besar mengalahkan negara kecil, negara kaya mengalahkan negara miskin, tetapi negara cepat mengalahkan negara yang lambat,” kata Jokowi seperti dilansir dari laman twitter pribadinya pada, Sabtu (6/8).

Presiden Jokowi menjelaskan, setidaknya terdapat tiga pondasi untuk Indonesia agar bisa bersaing di masa depan dan terhindar dari resesi atau krisis ekonomi disaat negara lain menuju kebangkrutan. Ketiga pondasi tersebut yakni, infrastruktur, hilirisasi dan industrialisasi serta digitalisasi.

“Tiga fondasi Indonesia untuk bersaing di masa depan itu: infrastruktur, hilirisasi dan industrialisasi, serta digitalisasi,” ujarnya.

Dijelaskan orang nomor satu di Indonesia ini, pembangunan infrastruktur secara masif dan merata di seluruh pelosok tanah air selama tujuh tahun terakhir menjadi pondasi untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Ketersediaan infrastruktur menjadi modal Indonesia meningkat menjadi negara maju, dan tidak terperangkap sebagai negara berkembang saja.

“Infrastruktur yang kita bangun saat ini, hasilnya mungkin baru akan terasa 5 atau 10 tahun yang akan datang. Dalam tujuh tahun ini, kita telah menambah 2.042 km jalan tol, 5.500 km jalan bukan tol, 16 bandara baru, 18 pelabuhan baru, 38 bendungan baru, hingga irigasi 1,1 juta ha,” jelas Jokowi.

Indeks daya saing Indonesia terus merangkak naik dan bersaing dengan negara-negara lain. Selain infrastruktur, Jokowi juga menekankan kemajuan satu negara juga ada pada hilirisasi dan industrialisasi. Sejauh ini, kata Jokowi ekspor nikel Indonesia ke negara luar sudah mencapai Rp300 triliun, artinya industrialisasi sangat penting bagi satu negara.

“Hilirisasi dan industrialisasi, mulai kita laksanakan dan untung besar. Anda tahu, nilai ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah pada 2014 hanya Rp15 triliun. Begitu ekspor bahan mentah kita hentikan di tahun 2017, nilai ekspor nikel kita 2021 mencapai lebih Rp300 triliun,” ungkapnya.

Lebih jauh Presiden Jokowi mengatakan, Indonesia adalah salah satu pemain utama di sektor teknologi dan digital di Asia Tenggara. Ini seiring sejalan dengan meningkatnya orang Indonesia yang memakai internet dan ponsel pintar.

Dari data laporan Digital 2021 yang dirilis oleh HootSuite dan We Are Social, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa. Meningkat 15,5 persen dari tahun lalu. Sedangkan dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika, ada 167 juta orang Indonesia, atau sekitar 89 persen dari total penduduk, yang memakai ponsel pintar.

Besarnya jumlah pemakai internet dan ponsel pintar ini semakin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Akhir 2020 silam, Google, Temasek, dan Bain & Company menyebut nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai 44 miliar dolar, dengan 32 miliar dolar di antaranya berasal dari sektor e-commerce.

“Lalu digitalisasi, utamanya untuk UMKM. Ada 65,4 juta UMKM di Indonesia yang berkontribusi pada 61 persen ekonomi kita. Jika hilirisasi dan industrialisasi tersebut dilakukan secara konsisten, saya yakin, PDB/GDP ekonomi Indonesia kini USD1,2-1,3 triliun menjadi di atas USD3 triliun,” tandasnya.

 

TERKINI
Mengenal Sisi Unik dari Lucid Dream yang Jarang Diketahui Kemendikdasmen Tekankan Sekolah Mesti Jadi Ruang Aman dan Nyaman Lebanon Upayakan Gencatan Senjata Permanen dengan Israel Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya