Rabu, 08/06/2022 16:57 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Mewujudkan Indonesia sebagai negara berpendapatan tertinggi ke-5 di dunia, maka teritory percepatan pertumbuhan ekonomi harus didorong di angka 5,7 persen. Pemerintah bersama seluruh jajaran kementerian berupaya untuk menaikan GDP di angka 3,9 Persen dengan nilai dari 4.000 dolar AS menjadi 10.000 dolar AS.
Hal itu, disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, dalam Focus Group Discussion (FGD) Kedua dari Serial Diskusi Pra RAKERNAS I Partai NasDem, Rabu (8/6/2022)
“Apa yang disampaikan presiden Jokowi Indonesia akan menjadi negara berpendapatan tinggi nomor lima di dunia di tahun 2045 bisa diwujudkan dan ada beberapa hal yang harus kita pacu,” kata Mendag Lutfi.
Selain itu, Menurut Mendag Lutfi ada 5 strategi yang harus diterapkan atau ditingkatkan, yaitu:
10 Ucapan Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika 2026 yang Penuh Makna
71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Warisan Bandung di Tengah Dunia Bergejolak
"Super-Venus", Planet Baru Enaiposha yang Bikin Ilmuwan Bingung
- Membuat iklim investasi menjadi yang terbaik
- Reformasi birokrasi tak boleh berhenti
- Komponen investasi harus naik
- Industrialisasi terus ditingkatkan,
- Pertumbuhan ekspor dan import terus ditingkatkan
“Yang tadinya 3,4 persen GDP ekspor impornya kita positif tahun lalu, dan terus kita pacu pertumnbuhannya," ujar Mantan Ketua Umum HIPMI ini.
Setelah pandemi, Mendag mengatakan indonesia mengalami supply atau demand lacking behind di sektor pangan dan rantai pasok dunia artinya pertumbuhan lebih tinggi dari pada pertumbuhan supply.
“Tak hanya itu, pengaruh geopolitik dan geostrategi dunia terhadap energi dan lingkungan hidup nasional. Mengenai bagaimana pengaruh geopolitik dan geostrategi dunia terhadap pangan,” ungkap Mendag Lutfi.
Dengan begitu, Pemerintah harus selalu mempersiapkan langkah-langkah preventif dengan cepat dan tepat untuk menghindarkan negara kita dari efek negatif yang dapat menggangu perekonomian kita. Misalnya, bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk menghadapi ancaman kenaikan harga dan kelangkaan pangan.
“Ketika permintaan naik supply juga naik, ini yang membuat minyak naik sesuai kebutuhan dan ini naik luar biasa sebelum adanya perang atau agresi militer,” tutur Mendag Lutfi.