Rabu, 18/05/2022 20:44 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku salah satu pusat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), memulangkan empat peserta usai kedapatan menempelkan chip canggih di telinga.
Ketua Pelaksana UTBK UNJ, Suyono mengungkapkan alat itu dapat digunakan untuk berkomunikasi, yang notebene dilarang selama pelaksanaan tes UTBK. Walhasil, keempat peserta itu diamankan sebelum akhirnya dipulangkan.
"Hari ini (18/5) ada empat. Peralatan elektronik begitu. Melekat pada tubuh. Mereka kami amankan, tidak diperkenankan ikut ujian," ungkap Suyono kepada awak media di kampus UNJ pada Rabu (18/5).
Keempat peserta, lanjut Suyono, mengakui bahwa alat tersebut ditempelkan di telinga. Namun, dia tidak mengetahui secara persis bagaimana alat itu bekerja. Suyono hanya memastikan alat canggih yang dipakai bisa membantu ujian.
Thailand Tingkatkan Subsidi Sembako di tengah Krisis Migas
Protes Pelarangan Aksi Palestina, Ribuan Orang Diperkirakan Turun ke London
Kunjungan Luar Negeri, Pengamat SDI: Kabinet Harus Imbangi Speed Prabowo
"Jadi selama ketahuan, mereka kami amankan di sekretariat. Mereka buat BPA, tanda tangan BAP atas segala kejadian yang dilakukan. Mereka kami amankan sampai selesainya pelaksanaan tes, dan kami silakan untuk pulang," imbuh Suyono.
Terkait temuan ini, Plt Dirjen Diktiristek Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Nizam mengatakan bahwa sistem UTBK kembali terbukti mampu menangkap berbagai kecurangan yang dilakukan saat tes UTBK.
Karena itu, dia berpesan agar para peserta percaya dengan kemampuan diri sendiri, alih-alih menggunakan joki atau menyontek saat ujian.
"Yang rugi diri sendiri, terutama menipu diri sendiri. Seandainya lolos deteksi, nanti kuliah juga kesulitan. Percaya pada diri sendiri. Karena hasil tidak akan mengkhianati upaya," kata Nizam.
Ditambahkan oleh Ketua Pelaksana Eksekutif Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Budi Prasetyo, pihaknya terus melakukan upaya maksimal guna mendeteksi adanya kecurangan. Karena itu, dia juga berharap perguruan tinggi dan mitra menangkap semangat tersebut selama pelaksanaan UTBK.
"Kami memberikan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan mitra. Harapannya sama, satu frekuensi untuk mengamankan itu semua," kata Budi.