Bank Dunia Sebut Invasi Rusia Picu Krisis Pangan

Kamis, 21/04/2022 15:30 WIB

New York, Jurnas.com - Presiden Bank Dunia, David Malpass, menyebut invasi Rusia ke Ukraina telah menyebabkan krisis pangan di seluruh dunia. Bank Dunia menghitung, terjadi kenaikan harga pangan sebesar 37 persen sejauh ini.

Jika kondisi ini terus berlanjut, kata Malpass, maka akan mendorong ratusan juta orang ke dalam jurang kemiskinan dan gizi yang lebih rendah.

"Keadaan ini akan berdampak parah pada orang miskin, karena mereka akan makan lebih sedikit, dan memiliki lebih sedikit uang untuk hal lain seperti sekolah," terang Malpass dikutip dari BBC pada Kamis (21/4).

"Ini bencana manusia, artinya nutrisi turun. Tapi kemudian itu juga menjadi tantangan politik bagi pemerintah yang tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak menyebabkannya dan mereka melihat harganya naik," imbuh dia di sela-sela pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington.

Diketahui, ada cukup makanan di dunia untuk memberi makan semua orang, dan stok global besar menurut standar sejarah. Tapi, harus ada proses berbagi atau penjualan untuk membawa makanan ke tempat yang dibutuhkan. Malpass juga melarang negara-negara untuk mensubsidi produksi atau membatasi harga.

Sebaliknya, imbuh Malpass, fokusnya harus pada peningkatan pasokan pupuk dan makanan di seluruh dunia, di samping bantuan yang ditargetkan untuk orang-orang yang paling miskin.

Kepala Bank Dunia itu juga memperingatkan tentang "krisis dalam krisis" yang timbul dari ketidakmampuan negara-negara berkembang untuk membayar utang pandemi yang besar, di tengah kenaikan harga pangan dan energi.

"Ini adalah prospek yang sangat nyata. Ini terjadi di beberapa negara, kita tidak tahu sejauh mana. Sebanyak 60 persen negara termiskin saat ini berada dalam kesulitan utang atau berisiko tinggi terjerat utang, kesusahan," ujar dia.

"Kita harus khawatir dengan krisis utang, hal terbaik yang harus dilakukan adalah mulai lebih awal untuk bertindak lebih awal menemukan cara untuk mengurangi beban utang bagi negara-negara yang memiliki utang yang tidak berkelanjutan, semakin lama Anda menunda, semakin buruk," tambah dia.

TERKINI
Mendes Bertemu KSP Bahas Upaya Penuntasan Desa Tertinggal di 30 Kabupaten PM Inggris Dilaporkan akan Larang Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun Baleg DPR: Penetapan Lahan Pertanian Harus Berdasarkan Kondisi Faktual Gempa Filipina Tewaskan 19 Orang, 130 Lainnya Luka-luka