Sabtu, 05/03/2022 23:41 WIB
Kyiv, Jurnas.com - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky kesal dengan penolakan NATO memberlakukan Zona Larangan Terbang di seluruh wilayah udara Ukraina.
Menurut dia, keengganan Barat untuk campur tangan malah memberi Rusia lampu hijau, untuk terus membombardir kota-kota dan desa-desa. Namun NATO berpendapat bahwa zona larangan terbang akan menghasilkan konfrontasi dengan Moskow.
Apalagi, Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Sabtu (5/3) ini menegaskan bahwa strategi itu akan dianggap sebagai partisipasi Barat dalam konflik bersenjata.
Zelensky menyebut penolakan NATO mencerminkan "hipnosis diri dari mereka yang lemah, kurang percaya diri di dalam", dan Barat seolah-olah mengajarkan bahwa "tidak semua orang menganggap perjuangan untuk kebebasan sebagai tujuan nomor satu Eropa".
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Hizbullah Beri Lima Syarat Gencatan Senjata dengan Israel
Parlemen Klaim Kemenangan Iran, Sebut Gencatan Senjata Strategi
"Semua orang yang akan mati mulai hari ini juga akan mati karenamu. Karena kelemahanmu, karena perpecahanmu," tambah Zelensky yang mimik marah dikutiip dari BBC pada Sabtu (5/3).
Pada Jumat (4/3) kemarin, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, memperingatkan bahwa pemberlakuan zona larangan terbang dapat menyebabkan "perang penuh di Eropa yang melibatkan lebih banyak negara dan menyebabkan lebih banyak penderitaan manusia".
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga mengesampingkan pengenalan zona larangan terbang, tetapi mengatakan kepada BBC bahwa dia yakin Ukraina dapat memenangkan perangnya dengan Rusia.
"Saya tidak bisa memberi tahu Anda berapa lama ini akan berlangsung," kata diplomat Amerika tersebut.
"Saya tidak bisa memberi tahu Anda berapa lama waktu yang dibutuhkan. Tetapi gagasan bahwa Rusia dapat menundukkan 45 juta orang yang dengan gigih berjuang untuk masa depan dan kebebasan mereka, itu tidak melibatkan Rusia yang mengacungkan jempolnya di Ukraina, itu memberitahu Anda banyak hal," lanjut dia.
Keyword : Rusia Ukraina Perang NATO Volodymyr Zelensky