Minggu, 26/12/2021 10:33 WIB
Banyumas, Jurnas.com - Dengan protokol kesehatan yang ketat, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Banyumas pada 25 Desember 2021 menggelar Talkshow Kebangsaan.
Talkshow yang digelar di salah satu aula hotel di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, itu diselenggarakan untuk mendinamisasikan Konferensi Cabang XI IPNU dan IPPNU. “Kami akan menggelar konferensi di awal Januari 2022,” ujar Ketua IPNU Banyumas, Aditya Ageng. “Talkshow ini diikuti oleh pengurus se-Banyumas,” tambahnya.
Aditya mengatakan selain untuk mendinamisasikan konferensi, talkshow yang digelar pada hari juga sebagai jalan untuk menyemai kembali semangat kebangsaan di kalangan generasi muda. “Agar kita semakin paham dengan nilai-nilai kebangsaan dan selanjutnya mengimplementasikan dalam keseharian,” tuturnya.
Dalam Talkshow, Aditya mengatakan pengurus mengundang Sekretaris Jenderal MPR Ma’ruf Cahyono untuk menjadi narasumber. “Kami pilih Pak Ma’ruf karena sosok yang tepat untuk membahas masalah kebangsaan,” tuturnya. “Pak Ma’ruf juga sudah kami anggap sebagai saudara sendiri sebab sama-sama orang Banyumas,” tambahnya dengan tersenyum.
Astrid Rilis Album Aku dan Cahaya, Ungkap Tantangan yang Dihadapinya
Ibas: Cerdas Cermat Empat Pilar MPR Jadi Pembelajaran Membentuk Karakter
HNW Apresiasi Pemerintah Tak Bebankan Kenaikan Biaya ke Calon Jamaah Haji
Saat pemaparan, Ma’ruf Cahyono merasa senang bisa memenuhi undangan dari IPNU dan IPPNU Banyumas. Ia bangga berada di tengah ratusan pelajar Banyumas yang terhimpun dalam organisasi itu. “IPNU dan IPPNU merupakan organisasi besar yang secara nasional memiliki jutaan anggota,” tuturnya.
Dirinya senang organisasi itu akan menyelenggarakan konferensi, hal demikian menurut alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menunjukan roda organisasi atau regenerasi telah berjalan. “Seperti NU yang selepas melaksanakan Muktamar di Lampung,” ujarnya.
Dalam talkshow, Ma’ruf Cahyono menyebut generasi muda mempunyai peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Dikatakan oleh Ma’ruf Cahyono, generasi muda sejak tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1998, serta momen-moment penting yang lain telah berkontribusi untuk membangun peradaban dan perubahan bangsa.
Generasi muda, menurut pria asal Wangon, Banyumas, itu, diharap terus dinamis. “Generasi muda harus tetap memiliki eksistensi,” ujarnya. Eksistensi ini dikatakan berasal dari daya, tenaga, dan motivasi. “Kita tidak akan memiliki eksistensi kalau tidak mempunyai semangat atau tenaga,” tuturnya.
Eksistensi merupakan suatu hal yang penting sebab bangsa ini kelak akan didominasi oleh generasi muda. Sebagai kelompok yang dominan dan sebagai pemegang tongkat estafet keberlanjutan bangsa dan negara ditegaskan agar mereka tidak mudah menyerah dan putus asa.
Sebagai pelanjut tongkat estafet kepemimpinan, Ma’ruf Cahyono mendorong agar mereka cerdas. Bekal kecerdasan inilah yang akan membuat generasi muda mampu dalam menyambut masa-masa yang akan datang sebab memiliki daya saing.
Sebagai warga negara, generasi muda didorong tetap memiliki jiwa persatuan. Kelompok ini disebut harus bersatu, cerdas, dan optimis. “IPNU dan IPPNU harus menjadi generasi muda yang bersatu, cerdas, dan optimis,” tegas Ma’ruf Cahyono.
Bekal untuk menghadapi tantangan ke depan, menurut Ma’ruf Cahyono, generasi muda juga perlu memiliki jati diri bangsa yang kuat. Jati diri bangsa ini disebut bersumber pada Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara keberadaannya harus tetap dijaga, dirawat, dan dipelihara.
Diingatkan suatu bangsa tak akan menjadi besar kalau tak ditopang pondasi yang kuat. “Nilai-nilai Pancasila inilah yang menjadi jati diri kita,” papar Ma’ruf Cahyono.
Pancasila, menurut Ma’ruf Cahyono, jangan hanya sekadar dihafal namun nilai-nilai yang ada diimplementasikan dalam kehidupan keseharian. “Dengan mengimplementasikan nilai-nilai yang ada maka kita akan mencintai dan bangga pada Indonesia,” ujar Ma’ruf Cahyono.