Serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak 10 Mei telah menewaskan lebih dari 200 warga Palestina, menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan menghancurkan bangunan dan infrastruktur utama air dan listrik di wilayah yang diblokade.
Lebih dari 90 persen kematian telah terdaftar hanya dalam lima negara yang menyumbang 70 persen populasi wilayah tersebut: Brasil (446.309 tewas), Meksiko (221.080), Kolombia (83.233), Argentina (73.253) dan Peru (67.253).
Tim medis Gaza tidak dapat secara memadai merawat mereka yang terluka dalam serangan udara Israel karena Jalur tersebut kekurangan peralatan medis dan obat-obatan yang diperlukan.
Situasi yang meningkat antara Israel dan Palestina melanggar piagam PBB yang mengatur tidak dapat diterimanya akuisisi wilayah dengan kekerasan dan melarang segala ancaman terhadap perdamaian, keamanan, dan stabilitas internasional.
Sebuah kelompok yang menamakan diri "Aksi Palestina" memboikot salah satu bangunan milik pabrik senjata Israel di Leicester, Inggris.
Syarief Hasan juga menyebutkan, agresi militer yang dilakukan oleh Israel telah membuka borok Israel yang ingin mencaplok wilayah Palestina secara keseluruhan.
Peristiwa ini memicu eskalasi kekerasan lebih jauh dan disusul aksi Hamas meluncurkan serangan roket ke Israel. Israel mengklaim mendapat justifikasi untuk melakukan aksi militer ke wilayah Palestina.
Ekspor dari Turki ke Libya melonjak 58 persen pada kuartal pertama 2021. Sebuah kelompok perdagangan utama Turki menilai ekspor sebesar $ 826 juta (TL 6,98 miliar).
Bamsoet menegaskan, Indonesia mengecam tindakan Israel yang juga menduduki wilayah dan merampas bangunan-bangunan di pemukiman warga Palestina di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.
Sekitar lima juta orang di wilayah ini sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan terutama bantuan makanan.