https://images.jurnas.com/img/conf-Jurnas_11.jpg

Dirjen Dikti: Beasiswa Gelar dan Nongelar Cetak SDM Unggul

Mutiul Alim | Rabu, 12/05/2021 11:28 WIB

Skema pembiayaan terdiri atas program gelar dan nongelar yang bertujuan untuk mencetak SDM unggul dan berkompetensi, yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan masa depan, baik di lingkup lokal maupun global. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud Nizam (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bersama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menggelar Sosialisasi Program Beasiswa Gelar dan Nongelar bagi Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi Akademik dan Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, pada Selasa (11/5).

Sosialisasi tersebut diadakan sebagai tindak lanjut program Merdeka Belajar Episode 10: Perluasan Program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tanggal 22 April 2021 lalu.

Kemdikbudristek meluncurkan berbagai skema pembiayaan studi untuk pendidikan tinggi akademik dan pendidikan tinggi vokasi dan profesi. Skema pembiayaan terdiri atas program gelar dan nongelar yang bertujuan untuk mencetak SDM unggul dan berkompetensi, yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan masa depan, baik di lingkup lokal maupun global.

Sebagai strategi dalam menjawab tantangan global, tantangan nasional, dan memperbaiki mata rantai yang putus pada dunia pendidikan tinggi, Ditjen Dikti juga telah meluncurkan program Kampus Merdeka.

Baca juga :

Dalam pengaplikasian program tersebut, Ditjen Dikti berdasar kepada delapan Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi (8 IKU PT). Adapun delapan IKU PT tersebut meliputi: 1) lulusan mendapat pekerjaan yang layak, 2) mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, 3) dosen berkegiatan di luar kampus, 4) praktisi mengajar di dalam kampus, 5) hasil kerja dosen digunakan masyarakat/mendapat rekognisi/pengakuan internasional, 6) program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia, 7) kelas yang kolaboratif dan partisipatif, serta 8) program studi berstandar internasional.

Direktur Jenderal Pendidikan tinggi, Nizam menyampaikan bahwa pada dasarnya Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diluncurkan untuk menghindari terjadinya mismatch antara perguruan tinggi dengan dunia kerja.

"Kita memberikan semangat Kampus Merdeka ini dengan menggerakkan mahasiswa kita belajar dari kampus kehidupan melalui sembilan kegiatan Kampus Merdeka yang saat ini sudah diluncurkan dan sudah banyak program yang dijalankan," ujarnya.

Untuk mendukung implementasi program Kampus Merdeka, Kemendikburistek berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan mengalokasikan dana abadi pendidikan yang dikelola LPDP dengan membiayai beasiswa gelar maupun nongelar.

Nizam menjelaskan, beberapa program beasiswa gelar dan nongelar bagi SDM pendidikan tinggi akademik yang mendapat dukungan pendanaan tersebut sebagai upaya untuk mencapai IKU perguruan tinggi.

Untuk mendorong mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, misalnya, Ditjen Dikti menyelenggarakan beberapa kegiatan, seperti program Kampus Mengajar, Microcredential Magang dan Studi Independen, Pertukaran Mahasiswa Merdeka, dan Mobilitas Internasional Mahasiswa Indonesia. Sasaran program tersebut merupakan program bagi mahasiswa S1 dengan durasi program bervariasi dari tiga hingga enam bulan.

Adapun untuk mengadakan berbagai kegiatan yang mendorong dosen untuk berkegiatan di luar kampus, terdapat program 1) Program Magang untuk Dosen Muda dan Tenaga Kependidikan di Perguruan Tinggi Dalam Negeri serta Program Magang untuk Dosen di Industri, baik dalam maupun luar negeri; 2) Program Staff Mobility, yang terdiri atas beberapa program, seperti SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange), Post-doctoral, serta Erasmus Mobility; 3) Program World Class Professor (WCP) yang memfasilitasi dosen perguruan tinggi untuk berinteraksi dengan institusi dan profesor berkelas dunia; 4) Program Kemitraan Dosen dan Guru yang menyasar para dosen LPTK; 5) Program Datasering, berupa penugasan dosen Detaser (pakar/ahli) pada Perguruan Tinggi Sasaran (Pertisas) yang membutuhkan kepakaran dan keahlian seorang Detaser untuk melakukan pendampingan dan peningkatan mutu Tridarma dan tata kelola di Pertisas; 6) Program Bridging Course, yaitu program pelatihan pradoktoral bagi dosen yang akan melanjutkan studi program doktoral di perguruan tinggi luar negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto juga menjelaskan beberapa program beasiswa gelar dan nongelar bagi SDM pendidikan tinggi vokasi.

Tujuan dari peluncuran program ini adalah menghasilkan lulusan vokasi yang memiliki soft skill dan pengalaman mumpuni dan tentunya relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta mampu berkontribusi terhadap penyelesaian masalah terkait isu ekonomi dan sosial serta masalah riil yang dihadapi DUDI.

“Program ini memang menawarkan suatu kemerdekaan, suatu keluwesan dan fleksibilitas tetapi substansinya tetap sangat tepat. Namun challenge juga tidak mudah karena relevansi serta kualitas itu menjadi pertaruhan dari ini semua, sehingga ketersiapan sivitas akademik sangat diharapkan," tutup Wikan.

Adapun program yang diluncurkan Ditjen Diksi tersebut adalah Program Beasiswa S1/D4 (Sarjana Terapan) Calon Guru SMK, Beasiswa Pendidikan Bergelar Dosen dan Calon Dosen Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Vokasi (PTPPV), Bridging Course Vokasi, Kampus Merdeka Vokasi, Magang Dosen dan Tenaga Kependidikan PTPPV, Sertifikasi Dosen dan Tenaga Kependidikan PTPPV, Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri - Dosen Pendidikan Tinggi Vokasi, Program Project Based Learning/Praktik Kerja Lapangan Bersertifikat Bagi Siswa SMK (Dalam Negeri dan Luar Negeri), Program Project Based Learning/Magang Bersertifikat Guru SMK (Dalam Negeri dan Luar Negeri).

Sementara itu, Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso mengatakan bahwa LPDP telah diberi amanah oleh negara ini untuk mengelola dana abadi. Dana tersebut harus dimanfaatkan antargenerasi untuk kemajuan bangsa.

“Jadi dana abadi ini akan tetap abadi dan harapannya dalam waktu yang tidak lama akan meningkat, sehingga kita memiliki anggaran yang cukup untuk pengembangan SDM. Kami sekarang merasa Kemdikbudristek dan LPDP itu satu perahu, satu rumah dengan satu pintu namun punya dua jendela, sehingga tidak terjadi lagi duplikasi dan kita bisa menyasar kepada tujuan penting yaitu kemajuan bangsa,” imbuh Dwi.

TAGS : Skema Pembiayaan Beasiswa Ditjen Dikti Nizam Kemdikbudristek