https://images.jurnas.com/img/conf-Jurnas_11.jpg

Iran Tuding GCC Coba Gagalkan Pembicaraan Nuklir di Wina

Supianto | Sabtu, 17/04/2021 20:06 WIB

Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump telah secara sepihak menarik diri dari perjanjian penting pada 2018 dan memberlakukan gelombang sanksi terhadap Iran yang belum dicabut. Suar gas di platform produksi minyak di Iran [REUTERS / Raheb Homavandi /]

Teheran, Jurnas.com - Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk permintaan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) untuk memasukkan tuntutannya dalam kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia, menuduh mereka mencoba menggagalkan pembicaraan yang berkelanjutan di Wina.

Juru bicara kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengecam pernyataan tidak bertanggung jawab dan tidak dewasa awal pekan ini GCC yang mengatakan pembicaraan harus mengatasi kekhawatiran atas program pengayaan Teheran di samping partisipasi blok regional dalam pembicaraan.

"Tujuan mereka mengemukakan pernyataan seperti itu bukan untuk meminta partisipasi tetapi untuk mengganggu proses pembicaraan teknis di Wina," kata Khatibzadeh.

"Para pemimpin GCC harus tahu bahwa Iran adalah anggota Badan Energi Atom Internasional dan semua aktivitas nuklirnya berada di bawah program pemantauan organisasi, dan jelas bahwa perkembangan mereka sejalan dengan hak-hak sah Iran, berdasarkan kepentingan nasionalnya, dan untuk mempertanggungjawabkan kebutuhan damai," tambahnya.

Baca juga :

Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump telah secara sepihak menarik diri dari perjanjian penting pada 2018 dan memberlakukan gelombang sanksi terhadap Iran yang belum dicabut.

Pembicaraan terus berlanjut di Wina dengan kelompok kerja ahli yang masih mengerjakan langkah-langkah yang perlu diambil oleh AS dan Iran untuk kembali ke kepatuhan penuh dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Pembicaraan di ibu kota Austria itu dijadwalkan untuk dilanjutkan pada Sabtu setelah para perunding utama mengadakan beberapa pembicaraan bilateral dan multilateral sejak Rabu dalam pertemuan tatap muka putaran kedua untuk memulihkan kesepakatan.

Menyusul serangan terhadap fasilitas nuklir utamanya di Natanz pekan lalu, Iran mulai memperkaya uranium hingga 60 persen kemurnian, yang tertinggi.

Iran mengatakan akan menggunakannya untuk menghasilkan molibdenum untuk memproduksi radiofarmasi.

Dalam pernyataannya, juru bicara kementerian luar negeri mengatakan para pemimpin Arab harus mengarahkan keprihatinan mereka terhadap AS, yang melanggar kesepakatan, dan kegiatan militer dan nuklir ilegal Israel. (Aljazeera)

TAGS : Dewan Kerjasama Teluk Kesepakatan Nuklir Iran