https://images.jurnas.com/img/conf-Jurnas_11.jpg

Petani Kediri Terapkan Zero Pestida Kimia Sintetis pada Tanaman Padi

Rizki Ramadhan | Rabu, 14/04/2021 13:17 WIB

Langkah ini sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian yang melakukan pengawasan ketat alokasi dan pemanfaatan pupuk agar tepat sasaran dan efisien. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Pandeglang, Irna Narulita melakukan panen padi Inbrida di lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Tani Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (23/4).

Kediri, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) selalu mengupayakan agar generasi milenial hadir di sektor pertanian. Karena petani milenial diharapkan bisa menghadirkan sejumlah inovasi. Hal ini yang kemudian dilakukan petani milenial asal Kediri yang sukses menerapkan zero pestida kimia sintetis pada tanaman padi.

Langkah ini sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian yang melakukan pengawasan ketat alokasi dan pemanfaatan pupuk agar tepat sasaran dan efisien.

"Kita selalu mengingatkan penyuluh pertanian di seluruh Indonesia agar mensosialisasikan penggunaan pupuk berimbang kepada petani. Gunakan pupuk sesuai kebutuhan yang mengacu pada umur padi atau tanaman lainnya," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, juga menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendampingi dan mengawal petani.

"Penyuluh harus hadir dalam mendampingi petani serta memberikan solusi yang dihadapi petani di lapangan," tegas Dedi.

Sekitar ± 27 Ha lahan sawah di wilayah Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur Tosaren, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, memiliki kandungan bahan organik rendah dan penanganan hama penyakitnya menggunakan pestisida kimia sintetis yang berlebihan.

Hal ini akan berdampak pada kandungan bahan organik tanah terdekomposisi dan semakin sedikit.

Kondisi ini membuat penasaran salah satu calon duta petani milenial (DPM) Indonesia di Kecamatan Pesantren, Yohan Pramuda Ariefianto.

Melalui pendampingan teknis budidaya tanaman sehat dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di BPP Kecamatan Pesantren, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri, Agus Fatony Tohari, Yohan mendapat jawaban dari rasa penasarannya.

Budidaya tanaman sehat adalah suatu metode budidaya yang diadopsi dari salah satu prinsip pengendalian hama terpadu (HPT). Dimana strategi membudidayakan tanaman memadukan semua teknologi budidaya berbasis ramah lingkungan sehingga menghasilkan tanaman yang sehat.

“Berawal dari tanaman yang sehat, maka akan menghasilkan makanan yang sehat dan selanjutnya mendukung pola hidup sehat bagi kita dan generasi selanjutya,” papar Agus Fatony.

Ia juga memberi keyakinan kepada petani bahwa membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan. Dan hasilnya sangat memuaskan, dimana rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya, dari yang semula pH 4 – 5 menjadi pH 5,5 – 6, kandungan bahan organik didalam tanah juga meningkat, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, serta hasil panen rata-rata menunjukkan peningkatan antara 10% sampai dengan 20%.

Selain itu, petani menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan budidaya tanaman sehat untuk mendapatkan kualitas tanaman dan lingkungan yang lebih baik.

Yohan berbudidaya tanaman padi yang sehat di lahan seluas 1.260 m², dimana ia telah menghilangkan aplikasi pestisida kimia sintetis dalam pengendalian hama penyakit pada tanamannya serta penggunaan pupuk kimia dibawah 50% yaitu urea 10 kg, NPK 30 Kg, ZA 10 Kg per musim tanamnya.

Yohan menggunakan pupuk organik yang mencapai 240 Kg dan ZPT, menggunakan asap cair serta bahan formulasi dari limbah rumah tangga tetap menjadi andalannya untuk meningkatkan hasil produksinya dan penanganan hama penyakit.

Di kesempatan lainnya, Yohan Pramuda juga dibimbing oleh Agus Fatony untuk memanfaatkan penggunaan mekanisasi pertanian, seperti rice transplanter di awal tanam dan combine harvester di waktu panen, sehingga hal ini mempengaruhi efisiensi biaya dan efektivitas waktu serta tenaga kerja yang digunakan.

Untuk penjualan, Yohan menjual hasil panen berupa beras yang telah dikemas. Dari lahan seluas 1.260 m², produksinya mencapai 928 Kg (GKP) yang dikonversikan ke beras menjadi 500 Kg dan sisanya ialah bekatul.

"Budidaya tanaman sehat yang saya aplikasikan pada tanaman padi, saya labeli dengan Beras Sehat produksi Poktan Tani Makmur Tosaren dengan harga kurang lebih 15.000 per Kg nya ke konsumen secara langsung. Jika nanti pasarnya sudah bagus, kami berencana akan mensertifikasi minimal PRIMA 3 melalui Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD)," tutur Yohan

"Di saat panen raya, petani harus berani mengambil langkah berani untuk bisa meningkatkan pendapatannya agar tidak selalu kalah dengan tengkulak, karena pertanian modern saat ini sangat mudah untuk di akses agar lebih efisien dan efektif," imbuh Yohan.

TAGS : Petani Milenial Kediri Zero Pestida Kimia Sintetis Tanaman Padi