Nadiem Makarim: Saya Banyak Terinspirasi Pemikiran Marhaenisme Bung Karno

Selasa, 29/06/2021 18:35 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makariem mengaku kerap diceritakan oleh kakeknya tentang sosok Proklamator RI Bung Karno.

"Cerita kakek saya itu mulai dari cerita Peran Bung Karno saat konferensi Asia Afrika, Proklamasi Kemerdekaan dan momen-momen penting lainnya," kata Nadiem saat menjadi pengulas dalam acara `Sarasehan Nasional Indonesia Muda Membaca: Bung Karno` yang digelar Megawati Institute, secara virtual, Selasa (29/6)

Semua cerita-cerita tersebut, kata Nadiem, benar-benar masuk dan mendarah daging di orang tuanya, lantas secara tidak langsung akhirnya juga mengena hingga menjadi landasan dari berbagai macam keputusannya dalam hidup ini. 

Dilanjutkan Nadiem, saat menjadi social enterpreneurship dan Mendikbud ada satu pemikiran Bung Karno yang membuatnya terinspirasi.

"Saya sangat tertarik dengan filsafat marhaenisme, mengenai rakyat kecil dan potensi rakyat kecil pada saat kita memerdekakan mereka. Di generasi saya, alat instrumen kemerdekaan itu berbeda, bukan revolusi bukan melalui merdeka secara fisik, tetapi kemerdekaan dari ekonomi, kemerdekaan dari keterbatasan," urai Nadiem.

"Saya setiap hari sebelum memulai Gojek (Start-up) itu setiap kali mengambil ojek saya berbincang-bincang dengan ojek dan nongkrong di pangkalan ojek setiap hari baru dengan diskusi itulah saya menemukan, dekat dengan rakyat baru kita menyadari potensi rakyat itu seperti apa," imbuh mantan bos Gojek ini.

Bagaimana saat menjabat Menteri? Sejumlah kebijakan Nadiem yaitu `merdeka belajar` ternyata terinspirasi dari Ki Hajar Dewantara dan Bung Karno. Menurut Nadiem, hal itu adalah filsafat para pendiri bangsa yaitu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan atas jajahan mental.

"Makanya kita menyebut tujuan dari transformasi pendidikan kita adalah profil pelajar Pancasila," papar Nadiem.

Dibeberkan Nadiem, ia menetapkan ada enam profil pelajar pancasila, antara lain beriman bertaqwa kepada Tuhan YME, kebhinekaan global, mandiri, kreatif, nalar kritis dan gotong royong.

"Ini mungkin luar biasa pemikiran jauhnya Bung Karno pada saat itu konsep: gotong royong, apa kemampuan atau kompetensi yang terpenting di 200 persen chance (peluang) itu adalah peluang berkolaborasi, kemampuan bekerja secara tim. Jadi, salah satu profil pelajar Pancasila terpenting gotong rotong. Kemampuan berkolaborasi dan bekerja dalam tim, itulah yang akan menjadi defenisi knowledge economy," tandas Nadiem.

TERKINI
Kebiasaan Buruk yang Bisa Menyebabkan Paru-paru Basah Bolehkah Meminta Kematian Saat Ditimpa Ujian Berat? Ini Hukum Pamer Kekayaan atau Flexing dalam Islam Inilah Ciri-Ciri Mukmin Sejati Menjelang Kematian