Minggu, 07/02/2021 22:44 WIB
London, Jurnas.com - Ekspor Inggris ke Uni Eropa turun 68 persen pada Januari 2021, setelah berakhirnya masa transisi Brexit yang disinyalir sebagai pengganggu perdagangan.
Dikutip dari Reuters pada Minggu (7/2), pemerintah tidak mengonfirmasi data ini, dan berkilah bahwa gangguan perdagangan terjadi sejak Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa pada 2020 lalu.
Sejak awal tahun ini, bisnis dan angkutan harus beradaptasi dengan pengaturan perdagangan baru, termasuk sistem baru untuk perusahaan dan pejabat di provinsi Inggris kawasan Irlandia Utara.
Sejumlah bisnis juga dituntut menyesuaikan dengan aturan baru bea cukai dan sertifikat kesehatan baru, di tengah hantaman pandemi Covid-19.
Fraksi Partai Golkar MPR Dukung Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Uni Eropa Proses Keanggotaan Ukraina dan Moldova ke Tahap Lanjut
Mendes Gandeng UIN SMH Banten Genjot Produksi Desa Tematik dan Desa Ekspor
Road Haulage Association (RHA) melaporkan penurunan ekspor Inggris sebesar 68 persen pada Januari, dalam rilis yang dicuitkan via Twitter.
"Saya merasa sangat frustasi dan jengkel, karena para menteri memilih untuk tidak mendengarkan industri dan para ahli," kata Kepala Eksekutif RHA Richard Burnett kepada surat kabar The Observer.
Pemerintah mengatakan terlibat dengan sektor tersebut, dan tidak mengakui angka penurunan ekspor yang dirilis RHA.
"Berkat kerja keras pengangkut dan pedagang untuk bersiap menghadapi perubahan, gangguan di perbatasan sejauh ini minimal. Dan pergerakan barang sekarang mendekati tingkat normal, meskipun ada pandemi Covid-19," ujar pemerintah dalam sebuah pernyataan.