Jum'at, 22/01/2021 06:25 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Yaman melaporkan bahwa 43 persen keluarga Yaman terpaksa mengurangi jumlah makanan harian mereka karena fluktuasi ekonomi negara.
"Gejolak ekonomi & konflik berarti membuat banyak orang di Yaman secara teratur mengurangi frekuensi atau ukuran makanan mereka atau orang tua makan lebih sedikit sehingga mereka dapat memberi makan anak-anak mereka," tulis WFP di Twitter dilansir Middleeast, Jumat (22/01).
Para ahli mengatakan dalam beberapa bulan terakhir bahwa daya beli warga Yaman telah menurun karena jatuhnya mata uang nasional, dengan penukaran lebih dari 900 riyal setiap dolar AS, mencapai puncaknya November lalu.
Yaman yang miskin telah terperosok dalam konflik sejak Houthi menggulingkan pemerintah dari kekuasaan di ibu kota Sanaa pada akhir 2014. Konflik meningkat pada Maret 2015 ketika koalisi militer pimpinan Saudi turun tangan, mendukung pemerintah Yaman.
Demokrasi dan Ekonomi Memburuk, Ratusan Warga Tunisia Demo Presiden
LPS Garansi Indonesia Tidak Bakal Alami Krisis Seperti 1998
Aksi Solidaritas Mahasiswa UBK Bagikan Paket Beras ke Ratusan Warga Jakarta
PBB mengatakan bahwa perang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk secara global, menyebabkan 80 persen populasi bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup, dan lebih dari 100.000 orang tewas.