Senin, 18/01/2021 19:44 WIB
Moskow, Jurnas.com - Negara-negara Barat mendesak Rusia segera membebaskan tokoh oposisi Kremlin Alexei Navalny yang ditahan pada Senin (18/1), sehari setelah dia tiba di bandara Moskow.
Navalny pada Minggu (17/1) kemarin terbang dari Jerman ke Rusia, setelah dia dinyatakan pulih dari percobaan pembunuhan menggunakan racun saraf Novichok, yang diduga dilakukan oleh agen Rusia.
Namun Rusia dengan cepat menolak seruan Barat untuk membebaskannya, ketika polisi menahan Navalny di sebuah kantor polisi Moskow.
"Hormati hukum internasional, jangan melanggar undang-undang nasional negara berdaulat dan atasi masalah di negara Anda sendiri," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova di Facebook dikutip dari Reuters.
Trump Sebut Ukraina takkan Terjadi jika Rusia Masih di G8
Uni Eropa Tegaskan Dukungan untuk Ukraina, Desak Rusia Gencatan Senjata
Kejar Swasembada Energi, Menlu RI Dorong Kerja Sama Nuklir dengan Rusia
Kasus Navalny dapat memicu sanksi baru terhadap Rusia, terutama terhadap proyek pembangunan pipa gas alam dari Rusia ke Jerman senilai $11,6 miliar. Sejumlah negara Uni Eropa (UE) mengatakan mereka ingin blok tersebut segera memberlakukan tindakan tersebut.
Empat petugas polisi bertopeng menahan politisi oposisi itu di pemeriksaan paspor pada Minggu malam. Layanan penjara Rusia mengatakan dia ditahan karena dugaan pelanggaran hukuman penjara yang ditangguhkan, yang menurut Navalny dibuat-buat.
Dikatakan, dia akan ditahan sampai sidang pengadilan yang dijadwalkan pada 29 Januari. Sidang tersebut akan memutuskan apakah akan mengubah hukuman yang ditangguhkan itu menjadi hukuman penjara 3,5 tahun yang sebenarnya.
Keyword : Alexei Navalny Rusia Tokoh Oposisi Racun Novichok