Selasa, 08/12/2020 07:55 WIB
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tidak berencana mengenakan tarif tambahan pada barang-barang China sebelum meninggalkan Gedung Putih. Hal itu disampaikan penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, Senin (7/12).
"Tentang pembicaraan perdagangan, kami tetap terlibat," kata Kudlow pada acara yang diselenggarakan oleh The Washington Post. "Kami tidak merencanakan tarif baru."
Trump melancarkan perang dangan ke Beijing yang melibatkan tarif tit-for-tat (pembalasan) pada ratusan miliar dolar dalam produk, banyak di antaranya tetap berlaku meskipun perjanjian fase satu ditandatangani awal tahun ini.
Kudlow mengatakan China memenuhi kesepakatan awal yang mencakup target khusus untuk pembelian produk pertanian seperti kedelai.
Kesabaran Trump ke Iran Mulai Habis, Desak Selat Hormuz Dibuka
Trump Akhiri Kunjungan ke China, Ini Hasil Pertemuannya
Menhut Dorong Produk Kehutanan RI Kuasai Pasar Amerika, Kayu Dijamin Legal
"Data menunjukkan ini, China mematuhi sebagian besar kesepakatan perdagangan fase satu. Mereka mungkin tertinggal karena situasi pandemi," ujar Kudlow.
"Selain itu, tampaknya ada gerakan positif sehubungan dengan pembentukan undang-undang baru dan badan hukum baru, badan peradilan, untuk menghentikan pencurian atas kekayaan intelektual kami yang, seperti yang Anda ketahui, merupakan bagian penting dari keprihatinan kami," tambahnya.
Pekan lalu, Presiden AS terpilih, Joe Biden mengatakan tidak akan segera menghapus tarif apa pun yang dikenakan Trump selama empat tahun masa jabatannya, dengan mengatakan dia akan fokus pertama pada investasi pada pekerja dan manufaktur Amerika.
Begitu dia menjabat pada 20 Januari, Biden diharapkan untuk memperbaiki hubungan diplomatik dengan mitra dagang dan sekutu seperti Uni Eropa, yang dapat menjadi sekutu yang kuat dalam menekan Beijing untuk mengubah perilakunya. (AFP)