Justin Trudeau: Kanada akan Terus Bela HAM di China

Sabtu, 17/10/2020 05:59 WIB

Ottawa, Jurnas.com - Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengatakan, Kanada akan terus membela hak asasi manusia di China. Pernyataan itu disampaikan setelah seorang diplomat China memperingatkan Ottawa agar tidak menyambut aktivis pro-demokrasi Hong Kong.

Sebelumnya, Duta Besar China untuk Ottawa, Cong Peiwu memperingatkan Kanada agar tidak memberikan suaka kepada aktivis Hong Kong, yang menurutnya dapat berdampak pada kesehatan dan keamanan bagi 300.000 warga Kanada yang tinggal di wilayah yang secara teoritis otonom China.

Harian Kanada The Globe and Mail mengatakan Ottawa baru-baru ini memberikan suaka kepada pasangan Hong Kong, yang tidak dikonfirmasi atau disangkal oleh pemerintah Kanada.

"Kami akan berdiri dengan keras dan jelas untuk hak asasi manusia, di seluruh dunia, apakah itu berbicara tentang situasi yang dihadapi Uighur, apakah itu berbicara tentang situasi yang sangat memprihatinkan di Hong Kong, apakah itu menyerukan China untuk diplomasi koersifnya," kata Trudeau saat ditanya tentang komentar duta besar China.

Namun dia menambahkan, "Kami tidak ingin meningkatkan."

Sebagai tanda meningkatnya ketegangan antara kedua negara, Menteri Luar Negeri Kanada, Francois-Philippe Champagne sebelumnya mengecam pernyataan duta besar sebagai "sama sekali tidak dapat diterima dan mengganggu".

Sementara itu, pemimpin baru oposisi konservatif, Erin O`Toole, meminta diplomat China itu "untuk sepenuhnya mencabut ucapannya dan mengeluarkan permintaan maaf publik."

"Jika Duta Besar gagal melakukannya secepatnya, kami berharap pemerintah mencabut surat kepercayaannya," katanya.

Hubungan antara China dan Kanada telah membeku sejak Desember 2018 ketika Kanada, yang bertindak atas surat perintah AS, menangkap kepala keuangan raksasa telekomunikasi China Huawei.

Washington menuduhnya melanggar sanksi AS terhadap Iran dan mendorong ekstradisinya.

Tak lama setelah penangkapannya, China memenjarakan mantan diplomat Kanada, Michael Kovrig, dan seorang pengusaha Kanada, Michael Spavor, atas tuduhan mata-mata, tindakan yang secara luas terlihat di ibu kota barat sebagai tindakan pembalasan oleh Beijing.

TERKINI
Desakan Mundur Dirut KAI Usai Insiden Bekasi Terlalu Prematur Belajar dari Tiongkok, Pemerintahan Prabowo Percepat Pengentasan Kemiskinan Triwulan I, Throughput PTP Nonpetikemas Capai 12,84 Juta Ton Tumbuhkan Ekonomi, MBG Harus Mampu Jadi Platform Pangan Terintegrasi