AS Tak Dukung Perang Turki Lawan Kurdi di Suriah

Kamis, 10/10/2019 07:17 WIB

Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan tidak mendukung perang Turki melawan Kurdi di Suriah utara. Ia menyebut serangan militer itu merupakan ide yang buruk.

"Pagi ini, Turki, anggota NATO, menyerang Suriah. AS tidak mendukung serangan ini dan menjelaskan kepada Turki bahwa operasi ini adalah ide yang buruk," kata Trump dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih, Rabu (9/10).

Pernyataan itu lebih jauh menyoroti sikap Trump terhadap perang tak berkesudahan di wilayah tersebut.

"Sejak hari pertama saya memasuki arena politik, saya menegaskan bahwa saya tidak ingin melawan perang tanpa akhir yang tak berujung ini terutama yang tidak menguntungkan AS," bunyinya.

"Kami berharap Turki mematuhi semua komitmennya, dan kami terus memantau situasi dengan cermat," sambungnya.

Pemerintahan Trump berada di bawah tekanan setelah memberi Ankara lampu hijau untuk menyerang daerah-daerah di bawah kendali militan Kurdi yang didukung AS.

"Berdoalah untuk sekutu Kurdi kita yang telah ditinggalkan tanpa malu Administrasi Trump. Langkah ini memastikan kebangkitan kembali ISIS," kata Senator Lindsey Graham (R-S.C.), sekutu Trump yang setia di akun Twitternya.

Sementara itu, Perwakilan Justin Amash (I-Mich.) mengatakan, meskipun Trump mengklaim akan mengakhiri perang AS, namun kenyataannya pasangan Melanian itu tidak mengakhiri apa pun.

"Terlepas dari kekacauan Presiden Trump tentang mengakhiri perang tanpa akhir, dia tidak mengakhiri apa pun. Pasukan kami tidak akan pulang; sejumlah kecil dipindahkan sehingga Turki dapat meningkatkan perang," katanya.

Senator Susan Collins (R-Maine juga menegaskan bahwa, "Hari ini, kita melihat konsekuensi dari keputusan yang mengerikan itu ... Jika laporan serangan Turki di Suriah akurat, saya khawatir sekutu kita Kurdi dapat dibantai."

 Trump sebelumnya mengatakan bahwa terlalu mahal untuk terus mendukung militan Kurdi di wilayah tersebut, yang dipandang Ankara sebagai teroris yang terkait dengan militan pencari otonom Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

TERKINI
Israel Serukan Evakuasi Warga Rafah, HAM PBB Sebut Tidak Manusiawi Hakim Ingatkan Trump soal Ancaman Penjara karena Langgar Perintah Pembungkaman Tanggapi Aksi Pro Palestina, 13 Hakim Konservatif AS Tolak Pekerjakan Sarjana Hukum Lulusan Columbia Kirim Delegasi Perundingan Gencatan Senjata Gaza, Israel Tetap Lanjutkan Operasi di Rafah