Selasa, 10/09/2019 11:21 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebut pembangunan di Indonesia saat ini, terutama pemindahan ibu kota negara, membutuhkan keterlibatan banyak insinyur yang bermutu.
Karena itu, dia mengapresiasi upaya dan keterlibatan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dalam menjamin mutu pendidikan teknik dan profesi keinsinyuran.
Dan dengan adanya lembaga akreditasi mandiri untuk pendidikan teknik dan sertifikasi profesi keinsinyuran, diharapkan kualitas insinyur Indonesia diakui dan dapat bersaing di tingkat global.
“Pemindahan ibu kota investasinya cukup besar. Pembangunannya harus cepat dari segi teknologi, dan punya manfaat tinggi,” kata Menristekdikti usai membuka Kongres PII di Jakarta pada Senin (9/9) malam.
Mengenal 5 Engineer Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah
Presiden Siapkan Rumah Dinas dan Tunjangan untuk ASN Pindah ke IKN
Jokowi Yakin Investor Banyak ke IKN Setelah Pembangunan Tol dan Bandara Rampung
“Dalam hal ini, berapa lama (pengerjaannya) yang harus kita lihat. Juga masalah estetik atau desain arsitekturalnya,” lanjut dia.
Lebih lanjut, Menristekdikti mengatakan bahwa PII berperan penting di profesi insinyur. PII diharapkan dapat menyiapkan insinyur-insinyur muda sarat kompetensi di era Revolusi Industri 4.0.
Menristekdikti berharap dengan terbitnya undang-undang keinsinyuran, PII sebagai asosiasi dapat menjalankan fungsinya dalam pengawasan profesi insinyur.
“Tentu kita semua lega akhirnya Undang-Undang Keinsinyuran terbit pada tahun 2014. Saya berharap dengan landasan hukum yang jelas, PII dalam menjalankan fungsinya. Ada aturan kode etik dan rule of conduct yang dimiliki oleh PII. Jadi, jika ada insinyur yang bermasalah, PII bisa memberikan sanksi sesuai dengan kode etiknya,” jelas dia.
Dari data yang dimiliki PII, jumlah insinyur di Indonesia sebanyak 2.671 per satu juta penduduk, di Malaysia sekitar 3 ribuan insinyur, di Vietnam 5 ribuan insinyur, sementara di Tiongkok lebih dari dua kali lipatnya.