Minggu, 18/08/2019 19:25 WIB
Beijing, Jurnas.com - China mengecam pernyataan anggota parlemen Amerika Serikat (AS) yang mendukung kerusuhan di Hong Kong. Negeri Tirai Bambu menyebut dukungan Washington itu sebagai campur tangan kotor dalam urusan domestik negara Asia.
Sejumlah senator dan anggota Kongres AS, termasuk Ketua DPR Nancy Pelosi, selama beberapa hari terakhir menyatakan dukungan untuk protes yang melumpuhkan di Hong Kong.
Juru bicara badan legislatif seremonial China, You Wenze, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap semangat aturan hukum, standar ganda secara terang-terangan dan campur tangan urusan dalam negeri China.
"Anda mengatakan, 7,5 juta penduduk Hong Kong dan penduduk China secara keseluruhan menolak tindakan sekelompok kecil pengunjuk rasa yang kejam serta campur tangan pasukan asing," sambungnya.
China Desak Pakistan Mediasi AS-Iran demi Selat Hormuz
Siswi Pontianak yang Viral di LCC MPR dapat Tawaran Beasiswa ke China
Bertolak ke China, Trump Berharap Sambutan Hangat Xi Jinping
Kecaman itu terjadi ketika puluhan ribu pemrotes yang berpayung payung mulai berbaris dari taman yang penuh sesak di pusat Hong Kong, di mana kerusuhan telah menjadi kegiatan akhir pekan biasa selama beberapa bulan terakhir.
Sementara aksi unjuk rasa baru-baru ini telah ditandai oleh bentrokan keras dengan polisi, panitia menyatakan harapan bahwa pertemuan hari Minggu akan damai.
Wilayah yang diperintah China pertama kali dilanda protes sepuluh minggu lalu, saat orang turun ke jalan untuk memprotes Rancangan Undang-Undang (RUU) ekstradisi.
Sementara RUU yang diusulkan sudah ditangguhkan, protes terus dan berubah dari waktu ke waktu menjadi kerusuhan yang sulit diatur.
Awal pekan ini, juru bicara Kantor Urusan Negara Hong Kong dan Makau Dewan Negara Yang Guang mengatakan kota itu sudah mencapai titik kritis saat perusuh mulai menunjukkan tanda-tanda terorisme.
Hong Kong telah diperintah dengan model "satu negara, dua sistem sejak kota bekas koloni Inggris dikembalikan ke China pada tahun 1997.
Keyword : Hong KongChinaAmerika Serikat