Sabtu, 06/07/2019 13:20 WIB
Jakarta, Jurnas.com – Presiden Joko Widodo menyayangkan fenonema masyarakat yang terpecah belah karena kontestasi politik di Tanah Air. Padahal ini merupakan proses yang berlangsung rutin setiap lima tahun sekali.
“Sedih kadang, urusan pemilihan bupati, gubernur, presiden jadi tidak saling sapa dengan tetangga, dengan teman. Ini proses yang setiap lima tahun sekali ada. Masa setiap lima tahun sekali mau tidak saling sapa?” kata Jokowi saat membuka Kongres Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Jakarta pada Jumat (6/7).
Karena itu, presiden berharap para guru yang tergabung di bawah PGRI, tidak ikut-ikutan terbawa perasaan alias baper dengan hal tersebut, sebagai bentuk kematangan dalam berpolitik.
“Politik seperti itu, jangan dibawa terlalu dalam. Jangan sampai. Tapi kalau PGRI tidak. Ini organisasi profesi,” ujar presiden.
PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK
Ekspedisi Patriot 2026 Difokuskan ke Papua, Kementrans Libatkan 10 Kampus
Komisi X: Pendidikan Tinggi Hak Seluruh Warga, Bukan Privilese
Jokowi menyampaikan, perbedaan di Tanah Air bukan soal politik semata. NKRI memiliki keragaman budaya, bahasa, suku, dan agama yang majemuk.
Dengan demikian, guru dinilai perlu menanamkan nilai toleransi pada siswa kuat-kuat ketika menyampaikan pelajaran di dalam kelas.
“Tolong ini sering diingatkan pada siswa dan murid, sehingga muncul toleransi yang dimulai dari bawah. Antar anak yang beda agama dan anak yang beda suku,” jelas dia.
Keyword : Joko Widodo Guru