Senin, 10/06/2019 23:32 WIB
New York, Jurnas.com - Kepala badan nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, khawatir meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran.
Ia menyerukan upaya de-eskalasi setelah Teheran menyatakan ketidakpuasan dengan tindakan Uni Eropa untuk mengimbangi dampak penarikan AS dari perjanjian internasional 2015.
"Saya ... berharap solusi untuk mengurangi ketegangan saat ini melalui dialog," kata Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Yukiya Amano dalam pertemuan Dewan Gubernur 35 negara IAEA, Senin (10/6).
Dalam pernyataan pengantar kepada Dewan Gubernur, Amano mengatakan, "Seperti yang telah saya tekankan bahwa komitmen Iran di bawah JCPOA merupakan keuntungan yang signifikan untuk memverifikasi nuklir. Karena itu, saya berharap ada solusi mengurangi ketegangan saat ini melalui dialog."
Iran Tuntut AS Segera Cairkan 50 Persen Aset Miliknya
Iran dan Oman Bakal Kelola Perlintasan di Selat Hormuz
Tok! Parlemen AS Sepakat Hentikan Aksi Militer terhadap Iran
Ia mendesak Iran terus mengimplementasikan sepenuhnya komitmen terkait nuklirnya di bawah perjanjian nuklir.
"IAEA akan terus memverifikasi non-pengalihan bahan nuklir yang dinyatakan oleh Iran berdasarkan Perjanjian Perlindungannya," ujarnya.
Amano menambahkan, IAEA akan melanjutkan evaluasinya mengenai tidak adanya bahan nuklir dan kegiatan yang tidak diumumkan di Iran.
Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengatakan pada 20 Mei, produksi uranium yang diperkaya Teheran meningkat empat kali lipat menjadi 3,67 persen hanya beberapa minggu setelah mengumumkan mengurangi komitmennya di bawah perjanjian nuklir internasional.
"Masalah ini tidak berarti peningkatan tingkat pengayaan atau peningkatan mesin centrifuge atau perubahan jenis sentrifugal, tetapi kapasitas produksi uranium yang diperkaya 3,67 persen ini akan menjadi empat kali lipat," kata Kamalvandi.