Minggu, 23/12/2018 07:04 WIB
Tehran - Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Suriah merusak kawasan itu. Itu disampaikan setelah Presiden Donald Trump menarik pasukan AS dari negara yang dilanda perang itu.
Pada Kamis (20/12), tepat pada hari Menteri Pertahana AS, Jim Mattis mengundurkan diri, Trump merintahkan pasukan militernya di Suriah dan berjanji AS tidak akan lagi menjadi polisi Timur Tengah.
"Kehadiran pasukan Amerika sejak awal, pada prinsipnya, adalah langkah yang salah dan tidak logis dan penyebab utama ketidakstabilan dan ketidakamanan di kawasan itu," kata juru bicara kementerian luar negeri Iran, Bahram Ghasemi di lewat Telegram-nya pada Sabtu (22/12).
Dilansir dari Al Jazeera, Tehran merupakan salah satu negera yang mendukung pemerintah Suriah.
Teheran: Iran Siap Negosiasi Kembali Jika AS Cabut Blokade
Iran Eksekusi Pejabat Pertahanan yang Jadi Mata-mata untuk Mossad
FIFA Rilis Tambahan Tiket Piala Dunia, Babak Final Tembus Rp188 Juta!
Garda Revolusi Iran memiliki kontingen komandan dan penasihat yang dikerahkan di Suriah untuk mendukung Presiden Bashar al-Assad, dan telah mengangkut senjata dan ribuan pejuang ke garis depan dari berbagai negara.
AS saat ini memiliki sekitar 2.000 pasukan yang dikerahkan di Suriah di dua wilayah di sepanjang perbatasan Irak yang sebagian bertujuan untuk menjaga pasukan Iran tetap terkendali.