Sabtu, 22/12/2018 12:25 WIB
Yerusalem - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan sudah melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengenai kehadiran militer Iran di Suriah.
Seruan itu datang sehari setelah Trump mengumumkan keputusan AS untuk menarik pasukan dari negara yang dilanda perang itu setelah kelompok Islamic State Iraq and Syria (ISIS) dilumpuhkan.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan kantor Perdana Menteri Israel, kedua pemimpin itu membahas cara untuk melanjutkan kerja sama melawan agresi Iran via telpon.
Sebelumnya pada hari itu, Netanyahu berjanji akan bertindak lebih agresif terhadap upaya Iran membangun dirinya di Suriah. Ia mengatakan Israel mendapat dukungan dari Gedung Putih atas tindakannya terhadap republik Islam itu.
Kemnhaj Pastikan Kepulangan Jemaah RI Lancar hingga Dam Tepat Sasaran
Ini 5 Waktu Terbaik untuk Berdoa di Hari Jumat
Pakistan Ancam Perangi India jika Lanjutkan Proyek "Politisasi" Sungai
Pengumuman penarikan pasukan AS dipandang di Israel sebagai memalukan bagi kebijakan luar negeri Netanyahu yang didirikan pada hubungan dekatnya dengan Trump.
Pemimpin partai oposisi Yesh Atid dan mantan menteri keuangan Israel, Yair Lapid menggambarkan keputusan AS sebagai bentuk menyerah atas kegagalan kebijakan luar negeri Netanyahu.
"Itu membuka jalan bagi ekspansi Iran dan mempersempit kemampuan Israel untuk melakukan tawar-menawar dengan Rusia," katanya lewat akun Twitternya.
Sementar itu, mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak mengatakan langkah itu mengungkap ketergantungan Netanyahu pada hubungannya dengan para pemimpin AS dan Rusia. "Trump meninggalkan Suriah dan Iran merayakannya," tulis Barak.
Militer Israel telah melakukan puluhan serangan udara dalam beberapa tahun terakhir terhadap posisi militer Iran dan Suriah di Suriah, serta konvoi senjata untuk Hizbullah, sebuah milisi Syiah Lebanon.
Keyword : IsraelAmerika SerikatIran